Sabtu, 20 Desember 2008

Satria Gunung Kidul 06

"Angger, Saritama, kau sudah kembali, nak," kata Sang Panembahan Sidik Panunggal ketika melihat pemuda itu.

Tiba-tiba Saritama mengeluarkan suara isak tertahan dan sertamerta ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Panembahan itu dan memeluk kaki sambil menangis tersedu-sedu.

Sang Panembahan menggunkan tangan kanan mengelus-ngelus kepala pemuda itu sambil berkata,

"Saritama, tidak ada kedukaan dan kekecewaan yang cukup besar untuk dapat menggoncangkan iman seorang satria. Sadarlah kembali dan gunakan sifat jantanmu untuk mengusir perasaan duka yang tak baik dan melemahkan itu."

"Aduh rama Panembahan, hamba telah berdosa besar rama....... Hamba..... telah membunuh kakangmas Sakri......" Pemuda itu menangis lagi.

"Wahai puteraku yang bagus, puteraku yang setia dan taat kepada pelaksanaan tugas, mengapa kau begini lemah? Kau bilang bahwa kau telah membunuh kakakmu Sakri? Ya Jagat Dewa Batara yang berkuasa di jagatraya! Bagaimanakah asal-mulanya maka kau dapat berkata demikian?"

Setelah dapat menekan perasaan terharu dan dukanya dan menetapkan hatinya, Saritama lalu berkata, "Hamba mentaati perintah Rama Panembahan dan menuju ke Majapahit untuk menunaikan tugas sebagai seorang satria dan pembela negara. Kebetulan sekali ketika hamba tiba disana , Majapahit sedang mengadakan perang melawan barisan dari kerajaan Pajajaran. Hamba lalu menuju ke tempat peperangan dan disana hamba mendengar tentang mengamuknya seorang panglima Pajajaran yang gagah perkasa dan bernama Sakri. Tadinya hamba merasa ragu-ragu dan tidak percaya bahwa panglima yang bernama Sakri itu adalah kakangmas Sakri sendiri. Maka hamba lalu mengajukan diri membela perajurit-perajurit Majapahit. Ketika hamba bertemu dengan panglima itu, benar saja, panglima Pajajaran itu adalah kangmas Sakri sendiri! Aduh, Rama Panembahan, sebelum hamba melanjutkan cerita hamba, mohon penyesalan, Rama, dalam keadaan seperti itu, apakah yang hamba harus perbuat? Hamba ingin mendengar pendapat Rama, apakah perbuatan hamba itu sesuai dengan pendapat Rama atau tidak, agar hati hamba menjadi tenang dan puas."

Sang Panembahan Sidik Panunggal mengangguk-angguk perlahan sedangkan para cantrik saling pandang dengan heran mendengar cerita ini. Kemudian terdengar suara Panembahan itu yang halus, sabar, dan penuh ketenangan,

"Saritama, ketika kau maju kemedan perang, kau adalah seorang perajurit Majapahit, maka siapa juga orangnya yang berdiri di fihak musuh negara, harus disingkirkan."

"Aduh, Rama Panembahan! Lega rasa hati hamba mendengar pendapat Rama ini! Ternyata biarpun perbuatan hamba telah membuat hati sanubari hamba terasa perih dan hancur, namun agaknya tidak menyeleweng daripada pelajaran Rama! Ketika hamba berhadapan dengan kakangmas Sakri, hamba dan kangmas Sakri berselisih pendapat dan mempertahankan tugas masing-masing hingga akhirnya kami berdua beryuda. Tadinya hamba kalah dan terkena pukulan Kelabang Kencana yang ampuh dan luar biasa. Akan tetapi, kakangmas Sakri menaruh kasihan kepada hamba dan hamba disembuhkannya kembali! Kemudian karena dorongan tugas kami masing-masing sebagai seorang perajurit dan satria utama, kami beretempur pula. Bukan main hebatnya sepak-terjang kakangmas Sakri yang benar-benar sakti mandaraguna! Dia terlampau gagah perkasa, terlampau sakti, hingga terpaksa hamba mengeluarkan Aji Bromojati. Dan dia..... kangmas Sakri yang tercinta..... dia kena hamba pukul Aduhai, Rama Panembahan, kalau tidak takut akan dosa dan murka dewata, mau rasanya hamba memenggal tangan hamba yang telah memukul kepala kakangmas Sakri. Rama ...... rama..... hukumlah hamba, karena hamba telah berdosa besar dan patut mendapat hukuman berat!"

"Tenanglah, Saritama. Lalu bagaimana lanjutan ceritamu? Apakah Sakri terus tewas karena pukulanmu Bromojati?"

"Tidak, rama. Dia terlalu sakti dan kebal untuk dapat sekali tewas dengan sekali pukul. Hamba sudah tidak kuat meihat keadaannya setelah dia terpukul oleh hamba. Hamba tubruk tubuhnya dan hamba tak kuat lagi menahan keluarnya air mata. Hamba tangisi dia, dan pada saat itu, seorang perwira Majapahit tanpa sebab lalu menyerang hamba dari belakang dengan tombaknya. Hamba tidak melihat serangan ini, akan tetapi tiba-tiba kakangmas Sakri melompat berdiri dan menubruk perwira itu hingga tombak yang sedianya menancap di punggung hamba, lalu menancap di dada kakangmas Sakri! Kakangmas Sakri membinasakan perwira yang curang itu dan tak lama kemudian dia menghembuskan napas terakhir dalam pelukan hamba! Ah, Rama Panembahan, perbuatan kakangmas Sakri yang biarpun telah hampir tewas karena pukulan hamba itu, akhirnya masih menolong hamba dari ancaman maut, sungguh memberatkan rasa duka di dalam hati hamba! Dia yang telah hamba pukul hingga hampir tewas, bahkan menolong dan menyelamatkan nyawa hamba!"

"Saritama, kaukira kau ini siapa maka mudah saja mengatakan dapat membunuh? Lupakah kau akan ilmu penerangan yang telah diturunkan oleh Sri Kresna? Bukankah Sri Kresna dulu pernah bersabda kepada Sang Arjuna bahwa

"Kalau ada orang berkata

bahwa Atman dapat terbunuh

atau berkata bahwa dia telah membunuh

maka orang yang berkata demikian itu

tidak mengetahui akan kebenaran!

Bagaimanakah Dia dapat membunuh

dan siapakah itu

yang dapat membunuh Dia?"

Ucapan di atas yang dipetik oleh Panembahan Sidik Panunggal ini adalah ucapan Sri Kresna yang ditujukan kepada Sang Arjuna dalam wejangan-wejangannya, yang terkenal sebagai kitab Rhagawad Gita. Memang semenjak kecil Saritama telah menerima bermacam pelajaran dari Panembahan Sidik Panunggal, maka tentu saja ia masih ingat akan ilmu pelajaran batin di atas. Ia lalu menyembah di hadapan Sang Prabu Panembahan dan berkata,

"Terima kasih, Rama. Sungguh besar sekali pengaruh wejangan Rama, karena kini hamba merasa tidak sangat tertekan."

"Kau hanya menjalankan tugasmu sebagai seorang ksatria dan perajurit utama, demikianpun Sakri. Biarpun dia telah tewas di dalam peperangan, namun ia gugur sebagai seorang ksatria utama. Tewas di dalam menunaikan tugas dimedan perang, bagi seorang perajurit dan ksatria utama, adalah cara mengakhiri hidup yang paling nikmat dan sempurna!"

"Akan tetapi, Rama Panembahan yang menjadi pujaan hamba di jagat raya! Betapa hati hamba takkan berduka oleh karena di dalam dunia ini, hamba hanya mempunyai rama dan kakangmas Sakri. Kini kakangmas Sakri telah pergi, ah, betapa hamba takkan merasa sunyi dan sengsara."

Sang Panembahan tersenyum. "Saritama, Saritama! Ucapanmu ini seperti seorang anak-anak saja. Mengapa kau hanya mempunyai aku dan kangmasmu? Tengoklah di sekelilingmu.Para cantrik ini, para kawan pamong desa, para petani, semua itu juga bukankah manusia-manusia yang tiada bedanya dengan aku atau kangmasmu? Kalau kau dapat menganggap aku sebagai ramamu dan Sakri sebagai kangmasmu, mengapa kau takkan dapat menganggap mereka semua itu sebagai ramamu dan juga sebagai kangmasmu? Dan sekarang, Saritama, bersiaplah untuk menerima kenyataan yang sebetulnya bukan apa-apa, akan tetapi kalau imanmu lemah, kau dapat menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang pahit bagimu. Kenyataan yang tadinya menjadi rahasia dan yang kini hendak kubuka ini, juga akan membongkar pula kenyataan bahwa nafsu perseorangan atau nafsu kekeluargaan yang menebal di dalam hati manusia itu sebenarnya tidak selayaknya dan hanya timbul karena diadakan oleh manusia sendiri, bukan timbul dari kodrat. Kasih sayang harus dicurahkan kepada seluruh manusia, tak perduli orang itu keluarga maupun tidak, berdasar rasa perikemanusiaan dan sesama hidup, bahkan seyogianya tidak hanya terhadap sesama manusia, akan tetapi juga terhadap sesama mahluk di dunia. Saritama, sekarang dengarlah, aku hendak menceritakan sebuah riwayat yang hendak kupersingkat saja."

Sang Panembahan Sidik Panunggal lalu bercerita sebagai berikut. Kurang lebih empat belas tahun yang lalu, terdapat seorang adipati yang mengepalai Kadipaten Tritis. Adipati ini mempunyai seorang musuh, yakni seorang tumenggung. Oleh karena keduanya adalah hamba kerajaan Majapahit dan keduanya memiliki kesaktian dan telah berjasa besar terhadap kerajaan hingga pengaruh mereka cukup besar, maka rasa permusuhan ini tidak dinyatakan berterang, hanya terpendam dalam dasar hati masing-masing. Walaupun pada lahirnya adipati dan tumenggung itu tidak memperlihatkan sikap bermusuhan, akan tetapi di dalam hati mereka menaruh dendam besar. Permusuhan ini timbul oleh karena seorang Puteri keturunan Prabu Jayanegara yang lahir dari selir. Puteri ini sebenarnya telah mempunyai hubungan kasih-sayang dengan adipati itu, akan tetapi oleh karena pada waktu itu sang adipati masih belum menduduki pangkat dan keadaannya miskin, maka akhirnya sang puteri tak dapat menjadi jodohnya dan menjadi isteri sang tumenggung yang kaya raya dan berpengaruh. Hal inilah yang menjadikan ganjalan di dalam hati kedua orang itu dan menimbulkan sakit hati yang tak kunjung padam. Akan tetapi, sang adipati itu dapat mengobati luka di hatinya dan biarpun ia masih membenci sang tumenggung, namun dia tidak melakukan sesuatu, bahkan lalu kawin dengan puteri lain dan hidup cukup berbahagia oleh karena ia mendapat anugerah raja dan dijadikan adipati di Tritis.

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan sang tumenggung itu. Biarpun puteri juita yang diperebutkan itu akhirnya terjatuh ke dalam tangannya dan menjadi isterinya, namun rasa cemburu masih melekat di dalam hatinya dan bencinya terhadap adiapti itu makin lama makin menghebat. Hingga pada suatu hari, dengan cara curang sang tumenggung itu berhasil menfitnah sang adipati yang dituduh hendak memberontak terhadap kerajaan Majapahit. Pada masa itu, yang memerintah di Majapahit adalah Sang Ratu Tribuwana Tungga Dewi dan sebagai seorang wanita, Ratu ini dapat dihasut hingga Sang Ratu menggerakkan panglima-panglimanya untuk memukul hancur adipati itu hingga terbinasa seluruh keluarganya, kecuali dua orang puteranya yang dapat diselamatkannya.

"Demikianlah riwayat itu, Saritama," kata Sang Panembahan Sidik Panunggal kepada Saritama yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan tertarik sekali. "Dan sekarang ketahuilah, wahai anakku, bahwa tumenggung itu adalah Tumenggung Wiradigda yang sekarang masih menjadi Tumenggung di Majapahit dan berkedudukan di wilayah Tangen, sedangkan adipati itu adalah Adipati Cakrabuwana atau..... adikku sendiri! Sedangkan kedua putera adipati yang diselamatkan itu tidak lain adalah........ Sakri dan kau sendiri! Jadi, aku bukanlah ramamu sebagaimana yang selama ini kau ketahui, akan tetapi adalah bapak tuamu atau pamanmu!"

Kalau bumi yang terpijak kaki Saritama pada saat itu ambles, belum tentu pemuda itu akan sedemikian kagetnya mendengar penuturan ini. Sepasang matanya tajam menatap Sang Panembahan, wajahnya memucat dan bibirnya gemetar. Tiba-tiba ia maju menyembah dan berkata dengan suara keras,

"Paman Panembahan, mohon doa restumu!" Ia lalu melompat bangun dan sambil mengacungkan tinjunya ke atas, ia berseru dengan bengis. "Tumenggung Wiradigda, tunggulah pembalasanku!"

Kemudian, tanpa menoleh lagi, pemuda itu lalu melompat ke depan dan lari keluar dari tempat itu secepat kidang melompat!

Sang Panembahan memandang ke arah perginya Saritama sambil menggeleng-geleng kepala, "Ah, hati muda....... semoga Hyang Agung akan menjauhkannya daripada kesesatan." Kemudian, tanpa mengeluarkan kata-kata lain kepada sekalian cantrik yang masih duduk bersila di situ, Sang Panembahan lalu memasuki pondoknya kembali dan duduk bersila bermuja samadhi dengan tekunnya.

Paracantrik hanya dapat saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.

Dengan hati dan pikiran tak karuan rasa, duka, kecewa, marah menjadi satu, Saritama meninggalkan pondok Panembahan Sidik Panunggal. Hatinya dipenuhi rasa dendam dan sakit-hati, dan pada saat itu ingin sekali ia segera bertemu dengan musuh besarnya yang telah menghancurkan penghidupan ayah-ibu dan keluarganya. Ingin ia segera mendapat kesempatan menjatuhkan tangan kepada Tumenggung Wiradigda.

Hm, Wiradigda keparat! Kau mengandalkan pengaruh dan kedudukanmu, dengan kejam dan buas menfitnah orang tuaku. Setelah kau merampas kekasih ayah, kau masih sampai hati untuk menghancurkan penghidupan ayah! Alangkah kejam, apa kaukira hanya aku saja laki-laki jantan di atas dunia ini. Tunggulah, awaslah kau, tumenggung keparat!" Tiada hentinya bibir Saritama bergerak-gerak membisikkan ancaman-ancaman ini di sepanjang jalan. Ia berlari bagaikan gila menuju ke Tangen, sebuah pedusunan yang berada di sebelah selatan Majapahit. Bukan dekat perjalanan yang ditempuhnya, akan tetapi berkat kesaktian dan kepandaiannya yang hebat, yakin dengan ilmu lariKidang Kencana,ia mengharapkan akan dapat sampai di tempat itu dalam tiga hari.

Pada malam hari ketiga, ia telah tiba di luar daerah Tangen. Oleh karena malam itu gelap sekali, terpaksa ia harus bermalam di sebuah dusun kecil dan tak dapat melanjutkan perjalanannya. Dusun di mana ia berhenti itu kecil, akan tetapi cukup ramai. Ketika melihat sebuah pondok di dalam dusun itu, pondok yang dilengkapi dengan sebuah tempat pemujaan di sampingnya seperti yang biasa dipunyai oleh seorang pertapa atau seorang Panembahan, ia menjadi tertarik. Ketika ia bertanya kepada seorang petani yang kebetulan bertemu denganya di tengah jalan dekat pondok itu, ia bertanya.

"Paman, maafkan kalau aku menganggumu. Pondok siapakah yang nampak di depan ini. Agaknya pondok seorang pertapa."

Petani itu memandangnya sejenak, karena ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah seorang pendatang dari jauh hingga tak mengenal pondok pertapa terkenal itu.

"Raden," katanya penuh hormat karena biarpun pakaian Saritama sederhana dan bagaikan seorang petani, namun sikap halus dan wajah tampan pemuda itu menimbulkan dugaan kepadanya bahwa pemuda ini tentu bukanlah seorang petani biasa. "Pondok ini adalah tempat kediaman seorang dukun yang sakti dan ditakuti orang, namanya Bagawan Kalamaya yang kemashurannya telah terkenal sampai kekota raja."

"Ah, kebetulan sekali, paman. Kalau seorang bagawan, tentu sudi menerima aku untuk bermalam di sini."

"Raden, kalau kau hendak bermalam di dusun kami, dan kalau kiranya gubukku yang bobrok tidak menjadikan celaan, aku persilakan kau mampir dan bermalam saja di rumahku. Janganlah kau mencoba untuk minta bermalam di sini."

Saritama merasa heran. "Eh, mengapa begitu, paman? Aku berterima kasih sekali kepadamu, paman. Kau memang baik hati dan ramah tamah, akan tetapi, hatiku menjadi ingin tahu mendengar kata-katamu tadi. Mengapa Bagawan Kalamaya takkan mau menerimaku? Bukankah seorang pendeta itu biasanya murah hati dan berbudi?"

Petani itu menghela napas dan matanya memandang ke arah pondok itu dengan hati-hati dan takut-takut, kemudian ia berbisik. "Raden, ketahuilah, Bagawan Kalamaya adalah dukun tenung yang ditakuti orang dan iapun galak sekali. Yang paling hebat ialah bahwa di rumahnya terdapat banyak iblis yang dipeliharanya!"

Saritama tersenyum. Ia tidak merasa heran mendengar ucapan petani ini, oleh karena memang para petani yang bodoh seringkali mudah dipengaruhi dan ditakut-takuti tentang iblis-iblis dan segala setan oleh orang-orang yang mereka anggap dukun tenung.

"Biarlah, paman. Betapapun juga aku ingin sekali berkelanan dengan dukun yang sakti itu."

Petani itu memandang kepada saritama dengan penuh kekuatiran dan juga kagum, akan tetapi ia telah demikian ketakutan berada terlalu lama di dekat pondok Bagawan Kalamaya, maka ia segera meninggalkan Saritama cepat-cepat sambil menoleh beberapa kali.

Saritama lalu memasuki pekarangan pondok yang gelap itu. Langsung ia menuju ke pintunya dan mengetok sambil mengucapkan salam. Setelah beberapa kali ia mengetuk pintu, barulah terdengar jawaban dari dalam.

"Anak muda yang cakap dan gagah, pintu pondokku tidak terpalang, dorong saja dan masuklah!"

Dengan sikap hormat Saritama lalu mendorong daun pintu itu. Daun pintu mengeluarkan bunyi bergerit menyeramkan dan Saritama melihat seorang kakek bongkok bersila menghadapi sebuah meja rendah dan di atas meja itu terdapat sebuah dian minyak kecil. Cahaya dian itu remang-remang dan membuat bayang-bayang suram pada dinding bilik. Tercium bau kemenyan dan kembang layu ketika Saritama memasuki ruang kecil ini.

Dengan sikap menghormat, pemuda itu lalu duduk bersila pula menghadapi tuan rumah yang tua itu, lalu berkata,

"Mohon maaf sebesarnya dari Bapak Bagawan apabila saya mengganggu ketentraman Bapak."

"Ha, ha, ha!" Kakek itu tertawa dan sepasang matanya berputaran. "Anak muda yang tabah dan cakap lagi sopan seperti engkau memang tak usah takut takkan mendapat tempat bermalam! Bukankah kedatanganmu ini hendak bermalam di tempatku yang buruk ini, anak muda?"

"Memang benar demikianlah maksud kedatangan saya, yakni kalau bapak tidak menaruh keberatan dan rela menerimanya."

"Tentu, tentu! Kau boleh bermalam di sini. Akan tetapi, siapakah kau, anak muda yang tampan dan sopan, kau datang dari mana dan hendak ke mana?"

Ketika tadi untuk pertama kalinya melngkahkan kakinya ke dalam ruang ini, Saritama yang bermata tajam sudah dapat melihat bahwa kakek ini memang seorang sakti yang memiliki ilmu hitam atau ilmu sihir yang tidak pantang mendatangkan celaka kepada orang lain, maka ia telah merasa kecewa masuk ke situ. Akan tetapi, oleh karena ia telah berada di dalam, pula sebagai seorang tamu, terpaksa ia harus berlaku sopan santun sesuai dengan kepribadiannya. Kini ia hendak mencoba sifat dukun itu dan menjawab pertanyaan dengan suara tenang,

"Bapak Bagawan, saya telah mendengar akan kesaktian dan kewaspadaanmu, mengapakah bapak masih hendak bertanya lagi? Bukankah bapak sudah tahu akan segala rahasia alam, termasuk namaku dan segala hal yang mengenai diriku yang bodoh?"

Bagawan Kalamaya tertawa sehingga tubuhnya bergoyang-goyang. "Ha, ha, ha, anak muda. Kau benar-benar pintar dan menyenangkan hati! Sudah tentu aku tahu akan segala apa di mayapada ini, dan tidak ada rahasia bagi Bagawan Kalamaya. Akan tetapi, sebagai seorang manusia, aku tak boleh meninggalkan kebiasaan manusia terhadap manusia lain, yakni apabila bertemu harus saling bertanya."

Mendengar jawaban ini. Saritama dapat meraba bahwa pendeta ini memiliki kesombongan besar dan hendak berpura-pura suci dan mengerti akan hukum alam. Maka ia tersenyum ketika menjawab,

"Baiklah, bapak bagawan. Saya bernama Saritama dari Gunung Kidul, dan saya hendak pergi ke Tangen."

"Ah, ah..... bukankah kau hendak mencari Tumenggung Wradigda?" tanya kakek pendeta itu.

0 komentar:

 
© free template by Blogspot tutorial