Mendengar ucapan biung emban Tomblok, Dewi Saraswati menurunkan kedua tangannya karena ia menjadi tertarik.
"Kau kan juga merasa susah, bukan, biung?"
"Tidak, gusti, hamba tidak susah karena calon suami itu sudah tua, malah kebetulan, oleh karena biarpun tua dia itu tua kelapa, yakni harta-bendanya banyak. Hamba pikir, kalau hamba sudah kawin dengannya, dalam beberapa bulan atau beberapa hari saja tentu dia akan mampus dan semua harta bendanya diwariskan kepada hamba! Akan tetapi, gusti, dia mati......! Aduh....... dia mati!" Dan Tomblok menangis lagi!
Dewi Saraswati heran. "Mengapa kau susahkan kematiannya, biung? Bukankah itu yang kau harapkan?"
"Benar, gusti, akan tetapi dia mati sebelum kami kawin! Baru saja kami ditemukan, tiba-tiba dia menggigil dan roboh terus mampus! Hamba menjadi janda sebelum kawin dan harta bendanya tidak terjatuh kepada hamba." Tomblok menangis lagi dan diam-diam Dewi Saraswati menjadi sangat geli.
Pada saat itu, dari belakang sebatang pohon keluarlah bayangan seorang bongkok, Dewi Saraswati dan Tomblok menjadi kaget sekali oleh karena mereka tidak segera mengenal muka pendatang ini. Dewi Saraswati lalu berdiri dengan takut, sedangkan Tomblok sudah memeluk kaki Dewi Saraswati dengan tubuh menggigil.
"Ssss..... ssseee..... setan!" teriaknya ketakutan melihat tubuh bongkok itu melangkah maju.
"Sst, biung emban, jangan ribut. Yang datang adalah Paman Bagawan Kalamaya!"
"Benar, anakku yang ayu, anak manis dan jelita, akulah yang datang!"
"Paman Bagawa, sungguh aku merasa terkejut dan heran. Mengapa paman bagawan datang ke taman sari dan pada waktu malam gelap begini? Apakah kehendakmu, paman?" tanya Dewi Saraswati dengan suara penuh teguran.
"Saraswati, bocah ayu, bocah denok! Aku datang untuk memboyongmu, kekasihku!" Sambil berkata demikian, Bagawan Kalamaya melangkah maju.
Bukan main terkejutnya Dewi Saraswati mendengar ucapan ini serta melihat sikap sang pendeta itu. Ia menduga bahwa pendeta ini tentu telah menjadi gila!
"Paman Bagawan, apakah artinya semua ini? Paman, janganlah kau berkelakar yang tidak pantas seperti itu!"
"Saraswati, jantung hatiku, jimat pujaan kalbu! Tidak tahukah kau bahwa aku adalah titisan Hyang Brahma? Kau adalah permaisuriku, Saraswati, marilah kau ikut kakanda untuk bersama pulang ke Sorga. Marilah, Saraswati permaisuriku!"
Bukan main takutnya Dewi Saraswati mendengar ini. Ia lalu lari di belakang tubuh Tomblok hingga Bagawan itu kini menghadapi Tomblok.
Pada saat itu Bagawan Kalamaya hendak maju memeluk, akan tetapi ketika melihat kepada Tomblok yang menghadang di depannya dan yang kini tidak ketakutan lagi , Bagawan itu mundur menyebut.
"Ya dewata yang maha agung! Kukira Saraswati tadi, tidak tahunya kau! Eh, kau ini mahluk apa? Manusia atau kadal?"
Bukan main marahnya Tomblok disebut kadal. Ia melangkah maju dan memutar-mutar susurnya di dalam mulutnya. "Kira-kira kalau menyebut orang! Biarpun kau menyebutku kadal, akan tetapi aku bukan kadal sembarang kadal! Aku adalah kelangenan (kekasih) sang puteri! Kau ini bagawan berotak miring barangkali. Mengapa malam-malam datang mengacau dan berlaku kurang ajar terhadap sang puteri? Apakah kau tidak takut kepada gusti Tumenggung?"
"Kau minggirlah!" bentak Bagawan Kalamaya dan sekali saja ia mendorong, Tomblok jatuh terguling-guling sambil berteriak-teriak. Akan tetapi, mendengar teriakan wanita ini, Bagawan Kalamaya lalu maju dan menendang hingga Tomblok menjadi pingsan! Kemudian, sambil membujuk dan merayu, menyebut-nyebut Dewi Saraswati sebagai permaisurinya, ia maju hendak menangkap Dewi Saraswati! Puteri itu merasa bingung dan jijik, hingga ia menjerit keras sekali. Agaknya jeritan inilah yang terdengar oleh Saritama dan yang menarik perhatiannya. Bagawan Kalamaya lalu melompat dan menerkam, dan ketika Dewi Saraswati hendak menjerit lagi, bagawan yang sudah kesetanan itu lalu menutup mulut Saraswati dengan tangannya.
Ketika mereka sedang bersitegang, datanglah Saritama yang hampir tak dapat mempercayai matanya sendiri. Tak pernah disangkanya bahwa Bagawan Kalamaya akan serendah itu batinnya!
"Pendeta bangsat tak tahu malu! Lepaskan gadis itu dan ingatlah, sadarlah kau, pendeta keparat dan sesat."
"Saritama, jangan kau mencampuri urusanku! Kau pergilah melakukan tugasmu sendiri. Aku, titisan Rahma, sedang berurusan dengan Dewi Saraswati, permaisuriku sendiri!"
Saritama marah sekali dan membentak sambil melangkah maju.
"Pendeta gila, kau dimabok kerendahan hatimu sendiri!" Kemudian, sekali merenggutkan lengan pendeta itu, ia berhasil melepaskan Dewi Saraswati yang dipeluk oleh bagawan gila itu.
"Saritama, kau ingin mampus!" Bagawan Kalamaya berseru marah dan tiba-tiba bagawan itu mencabut sebilah keris yang panjang dan beriuk lima. Keris ini nampak dahsyat mengerikan oleh karena selain mempunyai hawa yang berpengaruh dan jahat, keris ini juga selalu direndam dalam racun yang sangat jahat dan yang didapat dari air liur ular belang!
Biarpun tubuhnya bongkok dan sudah tua, Bagawan Kalamaya masih memiliki gerakan sigap dan tangkas oleh karena dia memang mempunyai kepandaian pencak silat yang tinggi di waktu mudanya. Sambil mengeluarkan suara tertawa yang aneh dan mengerikan, ia menyerang dengan kerisnya yang dinamai Paripusta yang berarti puas dan senang. Dari nama kerisnya ini saja dapat diukur bahwa pada hakekatnya, pendeta ini masih menjadi hamba daripada nafsu-nafsu jahat yang mengutamakan kepuasan dan kesenangan dunia.
Saritama yang bermata tajam dapat maklum akan kehebatan dan berbahayanya keris ini, maka cepat ia mengelak lalu mengirim pukulan dari samping kiri. Bagawan Kalamaya memiringkan tubuhnya untuk mengelak bahaya pukulan ini dan segera mengirim serangan bertubi-tubi dengan keris mautnya. Akan tetapi, Saritama dengan mudah sekali melompat ke sana ke mari, gesit dan cepat bagaikan seekor burung Srikatan. Pada saat yang tepat, sebuah pukulan tangan kirinya bersarang di dada pendeta cabul itu hingga Bagawan Kalamaya roboh terjungkir dan mengaduh-aduh tanpa dapat bangun lagi. Kerisnya terlempar jatuh dan menancap di atas tanah!
Dewi Saraswati masih belum hilang kagetnya. Diam-diam ia memperhatikan perkelahian tadi dan ia kagum sekali melihat ketangkasan dan kecakapan pemuda penolongnya itu. Ketika Saritama melangkah maju menghampirinya, Dewi Saraswati memandang dengan sepasang matanya yang tajam dan bening sambil menduga-duga oleh karena belum pernah ia melihat pemuda yang namanya disebut Saritama oleh bagawan tadi.
Kebetulan sekali pada saat itu keadaan tidak sangat gelap sehingga suram-suram Saritama dapat melihat bahwa dara yang diserang oleh Bagawan Kalamaya itu luar biasa cantiknya dan memiliki tubuh yang menggiurkan pula. Akan tetapi, pada saat itu Saritama tidak memandang dengan mata kagum, bahkan memandang dengan mata benci oleh karena ia teringat bahwa gadis ini adalah puteri musuh besarnya yang harus dibasmi.
Apakah kau bernama Dewi Saraswati dan anak dari Tumenggung Wiradigda?" tanyanya dengan suara kasar hingga gadis itu menjadi terkejut, apalagi ketika ia melihat betapa pandangan mata pemuda itu ditujukan kepadanya dengan bengis.
Sebelum ia menjawab, dari luar terdengar suara riuh-rendah oleh karena barisan ponggawa dan perajurit telah menyerbu ke dalam taman! Saritama bersiap hendak melawan mereka, akan tetapi tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik.
Ketika barisan terdepan telah tiba di situ dan beberapa orang serentak maju menubruknya, dengan tangkas Saritama bergerak merobohkan beberapa orang itu, kemudian secepat kilat tangan kanannya memeluk pinggang Dewi Saraswati yang segera dipondongnya dengan ringan dan mudah. Dewi Saraswati menjerit-jerit akan tetapi ia tidak berdaya dalam pondongan lengan tangan yang kuat itu.
Beberapa orang perajurit maju lagi menyerbu, akan tetapi mereka tidak berani menggunakan senjata tajam, kuatir kalau-kalau akan melukai sang puteri. Hal ini menguntungkan Saritama yang segera beraksi dengan menggunakan tangan kiri dan kedua kakinya. Beberapa orang roboh pula, akan tetapi barisan penyerbu makin banyak hingga Saritama merasa kewalahan.
Pemuda ini lalu membentak dengan suara keras,
"Hai, para perajurit Tangen! Bukan cara laki-laki sejati untuk maju secara keroyokan! Beritahukanlah kepada si keparat Wiradigda bahwa aku, Saritama dari Gunung Kidul, putera almarhum Adipati Cakrabuwana, datang hendak membalas dendam! Aku tidak mau mencelakakan orang lain dan musuhku hanyalah Wiradigda sekeluarga! Oleh karena keparat itu tidak ada di sini, maka sebagai gantinya aku menawan puterinya. Jika ia memang gagah berani dan menghendaki kembalinya sang puteri, silakan pergi menyusulku di tempat kediaman mendiang ayahku untuk membuat perhitungan secara laki-laki!"
Setelah berkata demikian Saritama lalu melompat ke dalam gelap sambil memondong Dewi Saraswati yang masih meronta-ronta dan menjerit-jerit! Semua ponggawa mencoba untuk mengejar, akan tetapi mereka tak dapat mengejar ilmu lari Kidang Kencana yang hebat dari pemuda itu hingga tak lama kemudian suara jeritan Dewi Saraswati makin melemah hingga tak terdengar lagi dari situ,
Geger dan ributlah seluruh Tangen pada malam hari itu ketika berita tentang penculikan diri Dewi Saraswati itu tersebar di seluruh tumenggungan. Obor dinyalakan dan orang-orang mencari ke sana ke mari dengan sia-sia.
Beberapa orang ponggawa segera menunggang kuda dan cepat menuju ke Pacet untuk menyusul sang tumenggung dan untuk menyampaikan berita buruk itu.
Setelah merasa bahwa larinya sudah cukup jauh dan tak mungkin terkejar oleh musuh-musuhnya lagi, Saritama menghentikan larinya. Dia telah sampai dalam sebuah hutan dan pada waktu itu, fajar telah mulai menyingsing.
"Lepaskan aku, lepaskan! Kau, orang kurang ajar!"
Saritama tersenyum masam dan tiba-tiba ia melepaskan pondongannya hingga tubuh Dewi Saraswati terbanting ke atas rumput sampai bergulingan! Sang puteri menggigit bibir dan segera merayap berdiri. Dengan sepasang mata bernyala-nyala dan bibir gemetar karena marahnya, ia maju dan bertolak pinggang dengan tangan kiri. Tangan kanannya diangkat dengan jari telunjuk menuding ke arah muka Saritama,
"Pengecut kau! Ah, kalau saja aku menjadi laki-laki tentu akan kupatahkan lehermu! Akan kubeset kulitmu dan akan kuhancurkan kepalamu!"
"Alangkah sombongmu, gadis! Apakah yang hendak kau sombongkan? Dan mengapa kau mencaci-maki?"
"Kau manusia rendah! Kaukira aku tertarik akan kedigdayaan dan kecakapanmu? Cis! Tak tahu malu! Kaukira mudah saja kau hendak memaksa dan mendapatkan diriku? Lebih baik aku mati daripada kau jamah dengan tanganmu yang kotor dan keji!" Dewi Saraswati lalu menangis.
"Diam dan jangan kau berani mengeluarkan kata-kata keji lagi! Kalau tidak, kutampar mukamu! Kau anggap aku ini orang apa maka timbul persangkaan kotor dalam kepalamu yang kecil itu? Siapa yang menghendaki dirimu? Kaukira aku tertarik dan tergila-gila akan kecantikanmu? Hah! Kau belum kenal aku. Inilah Saritama, Ksatria Gunung Kidul yang tak mungkin tergiur oleh kecantikan seorang wanita!"
Dewi Saraswati tercengang dan ia lupa bahwa ia sedang menangis. Ia turunkan tangan yang menutupi mukanya lalu memandang dengan pipi masih basah oleh air mata. Akan tetapi oleh karena kabut amat tebal di hutan itu, maka air muka pemuda itu masih belum kelihatan nyata.
"Habis...... untuk apa kau menculikku?"
Aneh sekali, tiba-tiba ia merasa kecewa dan mendongkol mendengar bahwa pemuda penculiknya ini sedikitpun tidak menghiraukan atau tergiur oleh kecantikannya!
"Dengarkan, gadis! Dulu, ketika kau dan aku masih kecil, ayahmu, Tumenggung Wiradigda yang keparat itu telah memfitnah orang tuaku sehingga ayah ibu dan keluarganya binasa semua! Kebetulan sekali aku dapat menyelamatkan diri dan kini aku datang hendak membalas dendam!"
Saraswati tertegun. Ia pernah mendengar tentang Adipati Cakrabuwana yang dianggap pemberontak dan ditumpas oleh barisan Majapahit.
"Siapakah ayahmu itu?" tanyanya minta kepastian.
"Ayahku adalah Adipati Cakrabuwana yang gagah perkasa, ksatria sejati, tidak seperti ayahmu!"
Panas juga hati Saraswati mendengar ayahnya dimaki-maki.
"Oo, jadi ayahmu adalah pemberontak itu?" katanya dengan suara mengejek. "Kalau begitu, kau seorang pengecut!"
Tangan Saritama sudah diangkat dan hendak menampar pipi gadis itu, akan tetapi Saraswati sama sekali tidak takut, bahkan mengangkat dada dan memandang tanpa berkedip hingga Saritama yang teringat bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita, menurunkan lagi tangannya.
"Kalau kau seorang laki-laki," katanya dengan napas sesak menahan marah," tentu akan kupatahkan lehermu! Akan kubeset kulitmu dan akan kuhancurkan kepalamu!" Tanpa disadarinya, ia mengulang ancaman Saraswati tadi dengan otomatis oleh karena kata-kata ini masih mengiang di dalam telinganya!
Saraswati tersenyum mengejek. "Mengancam saja meniru-niru orang! Aku menyebutmu pengecut oleh karena kau membalas dendam dengan curang. Mengapa kau menculikku? Apakah dosaku? Mengapa kau tidak berani menghadapi ayahku untuk bertanding secara laki-laki? Dan hendak kau apakankah aku ini?" kata-kata terakhir ini tidak dikeluarkan dengan hati kuatir, bahkan dengan suara menantang!
"Dengarlah, orang-orang Tangen yang pengecut! Bukan aku! Mereka maju dengan keroyokan. Oleh karena itu maka aku menawanmu dan kau hendak kubawa ke tempat tinggal ayahku dulu! Ayahmu harus datang ke sana sendiri apabila ingin menjemputmu dan ia harus menghadapiku untuk mengadu kesaktian!"
"Hah!" Saraswati mencibirkan bibir mengejek. "Dalam lima jurus saja dadamu akan pecah oleh pukulan ayah!"
"Sombong kau!" Saritama membentak. "Sudah tutup mulutmu yang cerewet itu dan hayo kita berjalan terus!"
"Tidak! Aku tidak sudi," gadis itu menantang, dan mengangkat-angkat dadanya yang penuh ke muka.
"Jalan! Kalau tidak, kau akan kuseret!" bentak Saritama gemas.
"Tidak! Boleh kau berbuat sesuka hatimu, aku tidak sudi menurut perintahmu!"
"Gadis kepala batu!" Sambil bersungut-sungut Saritama lalu memegang lengan tangan gadis itu dan menariknya ke depan. Saraswati meronta-ronta dan memberontak sekuat tenaga, memukul-mukul lengan tangan Saritama dengan tangan kanannya, menggunakan kakinya menendang-nendang lutut pemuda itu. Ketika Saritama tidak memperdulikan semua serangan ini dan tetap berjalan sambil menyeret Saraswati, gadis itu lalu menundukkan kepala dan menggigit tangan Saritama dengan giginya yang putih dan tajam!
Saritama berseru kesakitan dan terpaksa melepaskan pegangannya. Saraswati berdiri terengah-engah karena menahan marahnya, kedua matanya mengeluarkan air mata, akan tetapi ia tidak menangis, bahkan memandang dengan mata bernyala dan hidungnya yang indah mancung itu berkembang-kempis, seakan-akan mengeluarkan uap panas! Akan tetapi semua ini tidak kelihatan oleh Saritama oleh karena kabut di hutan itu masih tebal sekali hingga keadaan masih reamang-remang.
"Kau benar-benar kuda betina liar yang berkepala batu!" Saritama memaki.
"Dan kau kuda jantan liar yang tak tahu malu dan tidak sopan!" Saraswati balas memaki!
Keparat" Saritama membentak gemas dan tiba-tiba ia tangkap gadis itu, lalu dengan mudah dipondongnya! Saraswati mencoba untuk memberontak, memukul-mukulkan kedua tangannya ke arah dada dan kepala pemuda itu, akan tetapi dengan tangan kiri Saritama berhasil memegang kedua pergelangan tangannya hingga ia tidak berdaya lagi, hanya kedua kakinya saja meronta-ronta dan bergerak-gerak. Akan tetapi, Saraswati tidak mau menangis dan tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Ia sengaja meronta-ronta agar pemuda itu tak mudah dapat melanjutkan perjalanannya.
Akan tetapi, Saritama adalah seorang pemuda yang bertubuh kuat dan bertenaga besar, maka sedikit perlawanan itu tak berarti apa-apa baginya. Bahkan ia lalu mempergunkan ilmu larinya Kidang Kencana hingga Saraswati yang tiba-tiba merasa betapa pohon-pohon berlari-lari cepat dan angin menyambar muka dan seluruh tubuhnya hingga rambutnya berkibar tertiup angin, menjadi takut sekali. Gadis ini heran mengapa pemuda itu dapat berlari demikian cepatnya, maka iapun lalu berhenti meronta-ronta, bahkan memejamkan mata karena takut!
Berkat ilmu lari cepatnya yang luar biasa tak lama kemudian mereka telah dapat keluar dari hutan itu. Sementara itu, matahari telah mengusir pergi kabut yang tebal. Setelah keluar dari hutan Saritama kuatir kalau-kalau bertemu dengan petani dan dapat melihat betapa ia berlari sambil memondong seorang wanita, maka tiba-tiba ia berhenti.
Pada saat yang sama, ketika ia memandang ke arah muka gadis yang masih berada di dalam pelukannya, gadis itupun membuka mata dan memandangnya. Dua pasang mata bertemu dan keduanya diam tak berkata-kata! Lama sekali dua pasang mata itu saling pandang dengan penuh keheranan dan kekaguman. Saritama melihat betapa muka yang berkulit kuning-putih kemerah-merahan dan berbentuk sangat indah dihiasi mata, hidung, bibir dan rambut disinom yang tak kalah oleh kecantikannya bidadari dalam alam khayalannya. Sedangkan Saraswati melihat wajah pemuda yang tampan dan gagah sekali, dengan sepasang mata jernih tajam, perkasa dan bagus bagaikan Sang Arjuna sendiri!
Pada saat itu entah darimana datangnya, warna merah menjalar di kedua wajah teruna dan dara itu hingga wajah mereka memerah sampai ke telinga! Ketika melihat betapa tubuh yang berkulit halus dan hangat itu menempel di dadanya dan kedua lengannya memeluk tubuh gadis itu, tiba-tiba Saritama menjadi malu sekali hingga cepat-cepat ia menurunkan tubuh itu ke atas tanah!
"Kau....... kau harus berjalan sendiri," kata Saritama dan ia berusaha sekuatnya untuk memberi tekanan keras kepada suaranya supaya terdengar marah, akan tetapi hasilnya tidak sebaik yang ia harapkan oleh karena suara itu keluar dengan gagap dan lemah!
"Tidak, aku tidak sudi," gadis itu menjawab dengan bibirnya yang indah dan merah itu cemberut, sambil menunduk dan tak berani mengangkat muka memandang wajah Saritama!
"Apakah kau lebih senang kalau kupondong?" tanya Saritama agak berani dan dengan dada berdebar oleh karena gadis itu tidak memandangnya. Mendengar ini, Saraswati cepat mengangkat kepala memandang dengan mata bernyala lagi.
"Siapa sudi kau pondong?" bentaknya marah.
Saritama tersenyum dan wajahnya berseri oleh karena kini ia dapat melihat betapa gadis itu menjadi makin cantik di waktu marah! Kedua matanya seakan tertawa hingga gadis itu menjadi makin gemas.
"Kalau begitu, kau harus berjalan kaki."
"Tidak sudi!"
"Baik, aku akan memondngmu lagi kalau kau lebih suka dipondong!"
Mendengar ini, Saraswati menjauhkan diri dan segera berjalan kaki tanpa menoleh lagi, bahkan ia mendahului Saritama.
Pemuda itu tersenyum dan tiba-tiba ia merasa aneh sekali mengapa kebenciannya terhadap gadis itu lenyap sama sekali bagaikan kabut terusir matahari pagi! Untuk beberapa lamanya ia memandang lenggang gadis yang marah itu dengan hati berdebar dan semangat melayang. Alangkah manis dan lemah-gemulai lenggang gadis itu. Alangkah bersih dan halusnya kulit leher yang nampak dari belakang itu, dan alangkah indahnya bentuk kaki yang kadang-kadang nampak keluar dari kainnya ketika ia berjalan. Sebaik dan seindah itukah potongan dan bentuk kaki bidadari? Tak mungkin! Demikianlah, pemuda itu memandang bagaikan sebuah patung batu, dan setelah dara itu berjalan agak jauh, ia segera mengejarnya.
Saritama berjalan di sebelah Saraswati dan beberapa kali ia menengok, akan tetapi gadis itu berjalan dengan pandangan mata ditujukan ke depan, berbuat seolah-olah tidak ada orang di dekatnya!
"Nah, begini lebih baik," kata Saritama. "Aku tadi kuatir kalau-kalau ada orang melihat aku memondongmu. Alangkah ganjilnya."
Saraswati berdiam saja dan bahkan mempercepat langkahnya. Saritama juga berjalan tanpa berkata-kata, hanya beberapa kali memandang wajah yang marah itu. Lambatlaun, makin menipislah sinar kemarahan yang membayang pada wajah ayu itu, bahkan kini sinar kemarahan itu telah terganti oleh peluh yang memenuhi jidatnya. Dadanya agak terengah-engah, tanda bahwa gadis yang tidak biasa berjalan kaki jauh-jauh ini telah merasa lelah. Akan tetapi, Saraswati tidak sudi memperlihatkan kelemahannya dan memaksa diri berjalan cepat.
"Kau lelah? Marilah beristirahat dulu. Kita tak perlu tergesa-gesa!" kata Saritama dan biarpun ia mencoba untuk membuat suaranya terdengar biasa dan sewajarnya, namun ia tidak dapat melenyapkan suara yang mengandung iba hati hingga ia menjadi benci kepada suaranya sendiri yang telah membongkar rahasia perasaannya itu.
Akan tetapi, sedikitpun Saraswati tidak mau menengok atau menjawab, bahkan gadis itu lalu merapatkan bibirnya untuk menahan lidahnya yang hendak menjawab dan menundukkan kepalanya untuk mencegah matanya yang hendak mengerling ke kanan di mana pemuda itu berjalan!
Saritama menghela napas. Beberapa lama mereka berdua berjalan lagi dalam keadaan sunyi.
"Kau masih marah?" Saritama berkata lagi. Tidak ada jawaban.
"Dengarlah, Saraswati. Kau bernama Saraswati bukan? Nama yang indah! Dengarlah, aku sebetulnya merasa menyesal juga bahwa aku terpaksa menawan kau yang tidak berdosa. Akan tetapi, kalau aku melayani semua ponggawa Tangen dan melakukan amukan di sana, tentu aku akan membinasakan dan melukai banyak ponggawa yang sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan aku. Aku tidak tega melukai orang-orang yang tidak berdosa itu. Maka setelah melihat kau sebagai anak tunggal musuh besarku timbul akalku untuk membawamu pergi dan menanti kedatangan musuh besarku itu di sana agar kami berdua berhadapan muka tanpa ada orang lain yang mengganggu. Aku menyesal telah menyusahkan dan membuat kau marah di luar kehendakku!"
Terdengar suara perlahan keluar dari kerongkongan gadis itu, seperti sedu-sedan, akan tetapi Saraswati masih saja merapatkan bibirnya dan berjalan terus. Akan tetapi kakinya telah terasa lelah sekali dan matahari yang telah naik agak tinggi itu mulai terasa panasnya. Ia terhuyung-huyung dan tiba-tiba kaki kanannya tersandung batu. Hampir saja ia jatuh kalau Saritama tidak cepat-cepat memegang kedua tangannya dari samping.
Saraswati merasa kepalanya pening dan ia memejamkan kedua matanya sambil tanpa disadarinya ia menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu. Saritama mencium keharuman luar biasa yang keluar semerbak dari rambut gadis yang terurai itu dan pemuda ini cepat-cepat mengatur napas menutup mata untuk menahan gelora hatinya.
Akhirnya kepusingan yang membuat Saraswati merasa kepalanya berputar itu mereda dan ketika gadis ini sadar bahwa ia menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu, ia cepat-cepat merenggutkan tubuhnya, lalu menjatuhkan diri di atas rumput sambil menangis tersedu-sedu!
Saritama juga ikut duduk sambil mulai menyesali pebuatannya. Ia merasa kasihan sekali melihat gadis ini yang menjadi kurban daripada pembalasan dendamnya.
"Saraswati.......," katanya halus, "Jangan kau menangis....... kau....... Janganlah kau marah, dan maafkan aku, Saraswati."
Dengan mata mengalirkan air mata yang membasahi kedua pipinya yang kemerah-merahan, Saraswati memandang pemuda itu.
"Saritama, mengapa kau mengubah sikapmu yang kasar? Mengapa kau berubah sebaik ini? Berlakulah kasar karena aku adalah anak musuhmu. Hentikanlah godaanmu ini, Saritama."
"Saraswati, jangan kau anggap aku serendah itu. Aku tidak menggodamu, aku memang....... entah mengapa, tiba-tiba aku merasa kasihan kepadamu. Maafkanlah perbuatanku yang terpaksa oleh karena tugasku dan baktiku kepada mendiang ayahku."
"Tidak, tidak! Tidak ada yang harus dimaafkan, agaknya begini lebih baik lagi! Biarlah ayah mengalami sedikit kekuatiran oleh karena dia telah memaksaku menikah dengan tua bangka bandotan itu!"
"Apa? Kau dipaksa menikah dengan seorang tua bangka?" tanya Saritama. "Apakah dengan dukun lepus itu?"
Maka teringatlah Saraswati akan peristiwa di taman dan ia teringat pula bahwa pemuda inilah yang telah menolongnya dari bahaya cengkeraman Bagawan Kalamaya yang lebih hebat daripada bahaya maut. Untuk sesaat ia memandang kepada wajah Saritama dengan pandangan mesra, akan tetapi hanya untuk sebentar saja oleh karena ia segera dapat menguasai perasaannya kembali. Dia sendiri merasa bahwa pemuda di depannya ini adalah seorang ksatria yang baik budi dan gagah perwira maka tak sedikitpun terkandung rasa benci dalam hatinya. Pemuda ini bersikap demikian sopan-santun hingga menimbulkan kepercayaan besar di lubuk hatinya. Maka tanpa disadarinya ia lalu menceritakan betapa ia telah dilamar Adipati Tirtaganda dari Pacet yang sudah kakek-kakek dan lamaran itu diterima baik oleh ayahnya!
Saritama marah sekali mendengar penuturan gadis itu. "Sungguh memalukan! Biar kuputar batang leher bandot tua itu!" Ucapan ini dikeluarkan tanpa disadarinya dan ketika gadis itu gadis itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan bibir tersenyum, barulah ia sadar dan tiba-tiba ia menundukkan mukanya dengan malu.
"Saritama, mengapa kau demikian memperhatikan nasibku? Bukankah aku ini anak musuhmu yang hendak kau basmi?"
"Aku..... eh..... kau benar anak musuhku...... dan...... dan tentang Tirtaganda si celeng tua...... ah, aku memang benci sekali melihat bandot tua!" jawabnya gagap dan tidak karuan hingga tiba-tiba gadis yang tadinya menangis itu kini tertawa geli dengan air mata masih membasahi pipinya. Tertawanya nyaring dan merdu hingga Saritama mengangkat muka lalu memandang kagum.
"Saritama, kau ini....... aneh sekali."
"Mengapa aneh?"
"Betapa tidak? Kau memusuhi ayahku, membenci ayah dan hendak membinasakannya, akan tetapi kau demikian baik kepadaku. Bukankah ini aneh sekali?"
"Kau juga aneh, Saraswati."
"Eh, mengapa pula aku kau sebut aneh?"
"Kau sebentar marah, sebentar bersedih, lalu berbalik tertawa dan tersenyum riang! Kalau kau bersedih dan menangis hatiku menjadi tidak karuan karena ikut terharu dan bersedih, kalau kau marah, kau..... bertambah...... ayu, dan kalau kau tersenyum dan tertawa....."
"Mengapa?" gadis itu mengerling dengan tajam dan manis sekali.
"Entah mengapa, tapi hatiku jadi tidak karuan!"
Tiba-tiba dara itu tertawa geli sambil memegangi perut karena menahan gelak tawanya. "Kalau begitu, memang benar-benar kau ini pemuda aneh, aneh sekali! Dan bilang bahwa kau hendak bertempur melawan ayah? Sudahlah, tuan penculik, aku berada dalam kekuasaanmu, sekarang kita harus ke mana?" Saraswati bangkit berdiri.
Saritama mendongkol sekali karena merasa bahwa ia ditertawakan.
"Mari kita berangkat ke Tritis. Kalau kita berjalan cepat, sore nanti kita bisa sampai di sana!" katanya singkat.
Demikianlah, kedua anak muda itu berjalan melanjutkan perjalanan mereka ke Tritis, bekas tempat kediaman Adipati Cakrabuwana yang sekarang telah menjadi sebuah dusun kosong tak ditinggali seorang pendudukpun semenjak keluarga adipati itu dibasmi berikut seluruh isi kampung.

0 komentar:
Posting Komentar