Satria Gunung Kidul
Raja wanita atau Ratu di Majapahit yang bernama Sri Gitarja atau Tribuwana Tungga Dewi, yang disebut juga Bhre Kahuripan (1328 - 1359), lebih dikenal dalam dongeng "Minakjinggo Damarwulan" sebagai Prabu Kenya (Raja Wanita) Diah Kencana Wungu.
Di dalam dongeng sejarah itu diceritakan bahwa Prabu Kenya Diah Kencana Wungu ini menikah dengan Raden Damarwulan yang menurut catatan sejarah sebenarnya bernama Cakradara dengan gelar Kertawardana.
Sepasang suami-isteri kerajaan yang terkenal ini mempunyai seorang putera yang diberi nama Hayam wuruk (Ayam Muda). Hayam Wuruk inilah yang akhirnya menduduki tahta kerajaan sebagai Raja Majapahit dengan bergelar Prabu Rajasanegara (1350 - 1389).
Selama tiga puluh sembilan tahun. Sang Prabu Hayam Wuruk amat bijak dan pandai mengendalikan pemerintahan dan pada jaman itu, kerajaan Majapahit mencapai puncak kebesaran dan kemakmurannya, menjadi Kerajaan yang terbesar dan terkuat dalam kepulauan Nusantara. Bahkan dalam jaman ini pula nama Majapahit dikenal, disegani, dan dikagumi oleh negara-negara seberang lautan, termashur sampai ke tiongkok,India , Campa, Kamboja, anam. Hubungannya dengan negara-negara asing ini baik sekali dan saling menghormat, karena Majapahit dianggap sebagai kerajaan dan negara besar diantara negara-negara lain di dunia.
Semua hasil gilang-gemilang ini bukan semata-mata berkat kebijaksanaan Prabu hayam Wuruk seorang, melainkan juga berkat jasa-jasa para panglima senapati Majapahit. Terutama sekali berkat jasa warangka-dalem atau Patih Gajah Mada, seorang perwira yang terkenal karena sakti mandraguna, dan setia lahir-batin kepada kerajaan di mana ia mengabdikan dirinya. Dalam sejarah, belum pernah terdapat seorang patih seperti Sang Perkasa Patih Gajah Mada ini yang membela kerajaan Majapahit semenjak ibunda Prabu Hayam Wuruk, yakni Ratu Tribuwanatungga Dewi memegang kendali kerajaan. Patih Gajah Mada menjalankan tugasnya sebagai seorang patih yang setia selama tiga puluh tiga tahun (1331-1364).
Dan pada jaman keemasan Majapahit itulah kisah dibawah ini terjadi.
****
Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan, adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata.
Ratu Dewata mempunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi. Kecantikan Diah Pitaloka Citraresmi memang luar biasa dan agaknya sukar dicari keduanya di dunia ini! Bahkan Dewi Komaratih sendiri, Dewi Asmara yang terkenal sebagai bidadari tercantik di surga, agaknya akan kagum melihat wajah dan bentuk tubuh Diah Pitaloka! Tiada cacat celanya, dari ujung rambut di kepalanya sampai ke tumit kakinya. Kalau emas, dia adalah emas murni yang belum tercampur sedikitpun dengan logam lain. Seumpama batu permata, dia adalah mutiara asli yang telah digosok oleh tangan seorang ahli. Orang yang melihatnya, baik ia laki-laki maupun perempuan, akan terbelalak matanya dan ternganga mulutnya karena takjub dan kagum menyaksikan puteri nan cantik jelita, ayu dan manis ini!
Pada suatu hari, datanglah utusan dari kerajaan Majapahit. Ternyata bahwa berita tentang kecantikan Diah Pitaloka tidak saja menggoncangkan alam Pasundan, bahkan juga menjadi kemang-tutur orang-orang di Majapahit dan akhirnya menggerakkan rasaasmara di dalam dada Sang Prabu Hayam Wuruk. Maka diutuslah oleh Prabu Hayam Wuruk seorang tumenggung untuk menyampaikan pinangannya ke kerajaan Pajajaran.
Pada jaman itu, tidak ada raja yang lebih besar dan termashur daripada Prabu Hayam Wuruk. Maka, sudah selayaknya kalau pinangan Raja Majapahit ini diterima dengan hati gembira dan puas oleh Raja Dewata. Prabu Hayam Wuruk terkenal cakap, gagah-perwira, masih muda dan belum mempunyai permaisuri pula. Maka selain Raja Majapahit siapa pulakah orangnya yang lebih pantas mendapat kehormatan untuk mengulurkan tangan memetik bunga puspita dari Pajajaran itu?
Betapapun juga, Ratu Dewata sangat menyinta puterinya dan takkan puas hatinya kalau belum mendengar keputusan tentang pinangan Raja Majapahit itu dari mulut Diah Pitaloka sendiri. Ia ingin mendengar pendapat puterinya, maka dipanggilnyalah Diah Pitaloka serta diceritakan tentang datangnya utusan yang membawa pinangan dari Raja Majapahit, Sang Prabu Hayam Wuruk.
Kulit muka yang putih kekuning-kuningan dan halus bersih dari Diah Pitaloka segera menjadi merah bagaikan sekuntum mawar merah yang indah. Puteri itu menundukkan kepalanya dan dadanya turun-naik menahan desakan napasnya. Setelah agak reda gelora yang ditimbulkan oleh berita yang disampaikan oleh ramandanya itu, dengan suaranya yang merdu dan halus dia menjawab sambil menyembah.
"Ramanda prabu, junjungan tunggal di mayapada ini bagi hamba. Pendapat dan pikiran apakah yang ramanda kehendaki daripada hamba? Segala pendapat dan pikiran yang selalu menguasai hati dan ingatan hamba hanya satu, yakni, taat, patuh, dan setia kepada segala titah ramanda, sebagaimana layaknya seorang anak terhadap orang tuanya!"
Alangkah senangnya Ratu Dewata mendengar sembah puterinya ini. Ayah manakah takkan menaruh hati sayang dan kasih yang besar terhadap seorang anak yang tidak hanya kecantikannya membanggakan hati orang tua, akan tetapi terutama yang demikian berbakti?
"Sukurlah, anakku yang manis, Ramanda akan menerima pinangan ini oleh karena menurut pendapat dan pandanganku, Sang Prabu Hayam Wuruk adalah seorang raja yang berbudi bawa laksana, pandai mengatur pemerintahan, dan bijaksana pula. Kalau engkau menjadi permaisurinya, ayahmu akan merasa puas dan tenteram, oleh karena engkau pasti akan menemui kebahagiaan di Majapahit. Semoga dewata yang agung melindungimu, Pitaloka."
Maka dengan girang hati Ratu Dewata lalu menjamu utusan dari Majapahit itu. Kemudian ia memberi jawabannya dan mengabarkan kepada Prabu Hayam Wuruk bahwa selain pinangan itu diterima dan dianggap sebagai penghormatan besar sekali, Ratu Dewata sendiri berkenan mengantar puterinya ke Majapahit dengan membawa berita gembira itu, dan tak lupa membawa serta pula hadiah-hadiah untuk sang Prabu.
Ketika berita ini disampaikan kepada rakyat Pajajaran, maka bergembiralah semua orang Siapa orangnya yang takkan merasa gembira? Puteri kedaton Pajajaran menjadi permaisuri Majapahit! Tentu saja rakyat pun ikut merasa bahagia dan bangga. Berita ini disambut oleh rakyat dengan meriah, bahkan mereka yang terdiri dari golongan berada, lalu menyelenggarakan pesta untuk merayakan dan meriahkan pertunangan itu!
Seluruh Pajajaran berpesta-pora dan bergembira-ria. Hanya ada dua orang yang tidak ikut bergembira. Pertama adalah Diah Pitaloka sendiri Dara jelita ini sungguhpun di lahir tunduk dan patuh kepada ramandanya dan ikut pula memperlihatkan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya, namun di sudut hatinya timbul keraguan dan kebimbangan yang membuatnya tidak berbahagia Ia telah mendengar akan kegagahan dan kecakapan Prabu Hayam Wuruk dan ia percaya bahwa kedudukannya akan terangkat tinggi dan akan mendapat kemuliaan besar di Majapahit. Akan tetapi, selama hidupnya ia belum pernah bertemu dan melihat dengan mata sendiri keadaan Sang Prabu Hayam Wuruk. Kalau boleh dan kalau mungkin, ia akan merasa lebih senang jika dijodohkan dengan seorang pemuda di Pajajaran sendiri, seorang pemuda yang pernah dilihatnya dan yang kegagahan atau kecakapannya telah diketahuinya dari pandangan mata sendiri, bukan hanya diketahui karena mendengar berita angin seperti halnya Prabu Hayam Wuruk! Akan tetapi, dia adalah seorang wanita sejati yang memegang teguh kesusilaan, apalagi sebagai seorang puteri raja, ia harus memberi teladan bagi kaum putri umumnya, yakni kepatuhan terhadap orang tua dengan jalan berkorban. Ia menganggap pertunangan ini sebagai penguranan dirinya demi kebahagiaan orang tua dan demi kepentingan negara! Bukankah kalau dia menerima pinangan dan mentaati kehendak ayahnya, maka orang tuanya akan berbahagia? Dan bukankah kalau dia menjadi permaisuri Raja Majapahit yang besar dan kuat, maka kedudukan Pajajaran pun akan kuat pula?
Orang kedua yang pada saat itu merasa berduka adalah seorang pemuda rupawan yang tinggal seorang diri di dalam pondoknya. Pemuda ini adalah seorang panglima perang atau senapati muda dari kerajaan Pajajaran. Namanya sederhana sekali, yakni Sakri.
Telah tiga tahun Sakri menjadi senapati di Pajajaran. Pemuda ini berasal dari Gunung Kidul, di sebuah dusun kecil dekat pantai Laut selatan. Ia adalah putera seorang panembahan atau wiku ahli tapa yang sakti dan suci. Tidak mengherankan bahwa Sakri mendapat gemblengan lahir dan batin oleh ayahnya dan mewarisi kesaktian yang hebat mengagumkan. Setelah menjadi dewasa, ayahnya menyuruh ia merantau dan mencari pengalaman hidup, dan kalau bertemu dengan orang besar yang berjodoh, supaya bersuita (menghambakan diri).
Dalam perantauannya, akhirnya Sakri tiba di Pajajaran dan ia memasuki gelanggang ujian yang diadakan oleh Ratu Dewata. Kesaktian dan kegagahannya mengagumkan dan menyenangkan hati Raja Pajajaran hingga ia diterima menjadi seorang senapati muda.
Mengapa Sakri berduka mendengar bahwa Diah Pitaloka terikat jodoh dengan Raja Majapahit? Mudah diduga, Dada pemuda ini telah ditembus panahasmara yang mengandung bisa maha ampuh dan luka di dada kirinya makin lama makin menghebat. Cintanya terhadap puteri itu makin mendalam dan berakar. Akan tetapi, ia hanya seorang senapati muda yang baru menghambakan diri. Dia hanyalah seorang hamba dan kedudukannya hanya setinggi rumput di ladang. Sedangkan Diah Pitaloka adalah seorang puteri raja yang menjadi junjungannya dan kedudukan puteri itu setinggi bintang di langit! Kini, mendengar tentang diterimanya pinangan Prabu Hayam Wuruk atas diri Diah Pitaloka, Sakri hanya dapat menyesali nasib.
Malam itu Sakri tak dapat tidur. Ia duduk di atas sebuah batu di belakang pondoknya sambil berpangku tangan dan memandang ke arah bintang-bintang yang bertaburan di angkasa bebas. Berkali-kali ia menghela napas, tanda dari kehancuran kalbunya.
"Habislah harapanku, rusak-binasalah cita-citaku. Duhai bintang selaksa, tolonglah aku. Hidupku kosong, tiada pegangan lagi. Apa artinya hidupku tanpa dia??"
Berulangkali ia menghela napas dan wajahnya yang tampan menjadi sepucat bintang yang teraling mega. Kemudian ia teringat akan kampung halaman. Sudah menjadi kelaziman orang bahwa dalam saat duka selalu ia akan teringat akan kampung halamannya. Ia teringat akan ayahnya, dan teringat pula akan adiknya yang bernama Saritama. Kedua orang ini adalah orang-orang yang terkasih dalam hidupnya, yakni sebelum ia bertemu dengan Diah Pitaloka. Setelah seluruh hati dan nyawanya tercengkeram oleh kecantikan puteri itu, jarang sekali ia teringat kepada ayah dan adiknya. Tapi kini, tiba-tiba terbayanglah wajah kedua orang itu di ruang matanya dan ia menjadi rindu sekali kepada mereka.
Kenangan ini mengingatkan ia kembali kepada segala petuah dan pelajaran ayahnya yang bijaksana. Dan timbulah sesal dan kecewa dalam hatiya, Menyesal dan kecewa kepada diri sendiri. Bukankah dulu ayahnya pernah menyatakan bahwa cinta suci itu tak dikotori oleh segala kehendak dan pamrih untuk kesenangan diri sendiri? Bukankah segala perbuatan kebajikan itu baru dapat disebut sempurna apabila tidak dinodai oleh nafsu ingin menyenangkan diri sendiri? Diah Pitaloka telah dijodohkan dengan seorang Raja Besar dan akan menjadi seorang permaisuri yang tinggi dan mulia kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia daripada kedudukannya sekarang sebagai puteri Pajajaran. Bukankah hal ini berarti bahagia bagi Diah Pitaloka? Mengapa ia harus menyesal dan berduka? Kalau ia memang benar-benar menyintai puteri itu, sudah seharusnya apabila ia ikut bersukur melihat orang yang dikasihinya itu menjumpai kemulaiaan dan mengecap kebahagiaan. Ah, alangkah sesatnya jalan pikiran dan gelora perasaannya tadi. Hampir saja ia dibutakan oleh nafsu mudanya.
Sakri menghela napas lagi, akan tetapi kini penuh kesadaran. Ia harus menerima nasib, Ia harus berani menerima sakit hati dan berani berkurban demi cintanya kepada Diah Pitaloka. Pikiran ini melapangkan dadanya dan ia lalu bangun dari duduknya, dan masuk ke dalam pondoknya. Terdengar ayam jantan berkeruyuk tanda bahwa fajar telah mendatang. Tanpa terasa olehnya, ia telah duduk melamun semalam suntuk di belakang rumahnya!
****
Oleh karena perjalanan dari kerajaan Pajajaran ke kerajaan Majapahit bukanlah perjalanan yang dekat dan mudah, maka Ratu Dewata memberi perintah agar semua senapati dan panglima ikut mengiringkan kepergiannya mengantar Diah Pitaloka ke Majapahit. Hanya beberapa orang panglima tua saja yang ditinggal di kerajaan untuk menjaga kerajaan. Sakri juga tidak ketinggalan dan diharuskan mengiringkan rombongan itu.
Rombongan keluarga agung ini berangkat dengan diantar oleh seluruh rakyat sampai di luarkota raja. Di sepanjang jalan, rakyat di dusun-dusun yang sudah mendengar akan rombongan ini, sudah menanti di pinggir jalan untuk menyambut dan menghormat junjungan mereka dan mengagumi kecantiakn Diah Pitaloka yang naik dalam sebuah tandu.
Sakri menunggang kudanya yang hitam dan besar. Kuda ini adalah hadiah dari Ratu Dewata dana karena berbulu hitam mulus, maka ia memberi nama Gagak Tantra. Pemuda ini nampak gagah sekali hingga beberapa kali sang puteri yang tanpa disengaja menjenguk dari jendela tandu yang tertutup tirai sutera biru, melihat dia dengan pandangan mata kagum. Puteri ini merasa bangga sekali akan pahlawan-pahlawan dan ksatria-ksatria Pajajaran. Sambil duduk kembali dan menyandarkan tubuhnya di dalam tandu, ia menghela napas dan tersenyum. Di dunia ini tidak ada ksatria-ksatria yang hebat dan gagah seperti ksatria-ksatria Pajajaran, pikirnya.
Rombongan bergerak maju dengan cepat pada siang hari sedangkan pada malam hari rombongan itu bermalam di sebuah dusun yang dilalui. Kadang-kadang mereka harus bermalam di sebuah hutan, akan tetapi oleh karena rombongan itu telah membawa perbekalan lengkap, maka biarpun bermalan di dalam hutan, mereka dapat membangun sebuah tempat darurat untuk tempat bermalam Sang Prabu dan puterinya.
Pada hari ketujuh, mereka tiba di perbatasan Majapahit yang mempunyai daerah luas sekali. Oleh karena kemalaman di sebuah hutan yang liar dan luas, terpaksa rombongan itu membangun seuah pondok darurat untuk Ratu Dewata dan Diah Pitaloka tanpa ada prasangka akan adanya malapetaka yang mengancam keselamatan mereka.
Di dalam hutan yang liar itu tinggal serombongan begal yang ganas. Kepala begal itu bernama Jatimurka, seorang berusia tiga puluh tahun lebih yang bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis menakutkan. Ia sangat digdaya dan memiliki ilmu weduk hingga tubuhnya tidak mempan tapak paluning pande (tak dapat dilukai oleh senjata tajam)! Disamping kehebatan dan kekebalan ini, dia juga telah mempelajari pelbagai ilmu hitam, yakni ilmu sihir yang dipelajarinya dari seorang dukun pemuja setan di hutan roban. Jatimurka memimpin empat puluh orang lebih anggauta perampok rata-rata emiliki ketangkasan dan kepandaian berkelahi. Oleh karena iini, mereka ini ditakuti sekali dan jarang ada orang di sekitar hutan itu berani memasuki hutan.
Jatimurka telah mendengar akan kedatangan rombongan Ratu Dewata dan puterinya yang terkenal cantik-jelita. Maka diam-diam ia sendiri bersembunyi di balik rumpun alang-alang dan mengintai. Ketika ia melihat wajahDiah Pitaloka,ia menjadi tergila-gila dan biarpun hatinya gentar juga melihat para bayangkari (pengawal raja) dan panglima, namun ia telah mengambil keputusan tetap untuk menculik sang puteri!
Malam itu gelap-gulita. Suasana di luar lingkungan yang dibuat oleh barisan penjaga, sangat menyeramkan. Pohon-pohon hutan berubah bagaikan raksasa-raksasa siluman yang tinggi besar dan bergerak-gerak. Suara burung-burung malam terdengar seakan-akan sekalian isi neraka pada keluar dan datang di hutan itu menambahkan seramnya kedadaan.
Berkat ketinggian ilmu batinnya, Sakri menjadi tidak enak hati dan merasa seakan-akan ada bahaya mendatang. Tentu saja ia tidak dapat memberitahukan kepada orang lain maka diam-diam ia mengadakan pemeriksaan dan berkeliling memeriksa para penjaga yang ditugaskan menjaga di setiap penjuru. Telah tiga kali ia berkeliling, akan tetapi keadaan aman hingga dadanya menjadi agak lapang. Pondik tempat Raja dan Puteri beristirahat telah sunyi, tanda bahwa penghuninya sudah tidur pulas.
Menjelang tengah malam, tiba-tiba Sakri merasa betapa kantuk menyerangnya dengan hebat sekali. Hampir saja ia tak dapat bertahan lagi dan ia lalu duduk menyandarkan tubuhnya yang letih ke batang pohon jati. Pelupuk matanya bagaikan melekat dan sukar sekali dibuka. Tiba-tiba ia ingat akan perasaan tadi dan dengan sekuat tenaga batinnya ia melawan rasa kantuknya. Ia lalu berjalan ke arah penjaga dan alangkah marahnya melihat betapa tiga orang penjaga itu telah tidur saling tindih di atas tanah, mendengkur dengan enaknya! Ia pegang pundak mereka dan diguncang-guncangkanya. Akan tetapi, tubuh penjaga yang tertidur itu bagaikan mayat yang tak mungkin terbangun pula! Sakri merasa gemas dan menghampiri penjaga-penjaga di sudut lain. Sama saja! Penjaga-penjaga di sinipun telah tidur mengorok! Dan tak mungkin dibangunkan lagi, biarpun ia telah mengguncang dan menamparnya! Sakri berlari ke dalam dan memeriksa para panglima dan bayangkari. Juga mereka semua telah tidur pulas!
Sakri terkejut dan maklum. Ini adalah ilmu sirep (ilmu sihir untuk menidurkan orang) yang jahat dan mukjijat! Hidungnya mencium bau kemenyan dibakar dan kembang cempaka. Celaka! Tentu ada orang jahat menjalankan sihirnya hingga semua orang kena hikmat sihir itu dan pulas. Kembali rasa kantuk menyerangnya. Akan tetapi, Sakri tidak percuma menjadi putera Panembahan Sidik Panunggal yang sakti mandraguna di Gunung Kidul! Ia lalu duduk menyandarakan diri di batang pohon jati, dan berpura-pura tidur pula, akan tetapi ia kerahkan tenaganya dan menbaca mantera untuk menolak pengaruh jahat itu. Matanya dibuka lebar-lebar memandang dengan penuh perhatian.
Dugaannya memang benar. Jatimurka telah memperlihatkan kepandaiannya, ia mempergunakan ilmu sihir Cempaka-nendra yang berhasil mempengaruhi seluruh anggauta rombongan, kecuali Sakri. Tak lama kemudian, Sakri melihat bayangan hitam tinggi besar berkelebat melompati tubuh para penjaga. Bayangan hitam itu berhenti sejenak, memandang ke kanan kiri seperti lakunya seorang maling, lalu bergerak maju perlahan ke arah pondok di mana Ratu Dewata dan Diah Pitaloka bermalam.
Hati Sakri bergetar. Apakah kehendak maling digdaya ini? Ia merasa heran dan ingin melihat selanjutnya. Ia tidak segera menyerbu, akan tetapi diam-diam mengintai dan berjaga-jaga dengan pisau belatinya yang siap di tangan bilamana keadaan memerlukan. Bayangan hitam itu membuka pintu pondok dan Sakri mengintai dari balik daun pintu dengan perhatian. Oleh karena ia melihat bahwa bayangan itu tidak memegang senjata tajam, maka ia menduga bahwa bayangan itu tentu hanya bermaksud mencuri barang berharga. Akan tetapi, alangkah herannya ketika melihat bayangan hitam itu tidak menghampiri peti tempat perhiasan Diah Pitaloka, akan tetapi langsung menuju ke pembaringan sang puteri yang tertutup tirai sutera putih.
Tangan Sakri menggigil. Ia tidak berani bertindak di dalam kamar Sang puteri, khawatir kalau-kalau mengagetkan dara itu. Akan tetapi, keraguannya ini memberi kesempatan kepada Jatimurka untuk cepat membuka tirai pembaringan dan secepat kilat ia menubruk, Puteri juwita itu telah berada dalam pondongannya dan Jatimurka melompat keluar!
Bukan main marahnya Sakri ketika melihat bahwa kedatangan penjahat itu tidak lain ialah hendak menculik Diah Pitaloka. Ia melompat keluar dari tempat mengintainya dan membentak,
"Keparat jahanam, lepaskan tanganmu yang kotor dari Sang Puteri!"
Jatimurka terkejut sekali oleh karena ia tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang tidak terpengaruh oleh aji sirepnya. Karena kagetnya, ia melepaskan tubuh Diah Pitaloka hingga tubuh dara itu terbanting ke atas tanah. Akan tetapi, puteri itu tidak terjaga dari tidur seakan-akan tak merasa sama sekali, bahkan ia terus tidur pula dengan enaknya!
"Heh, pemuda keparat. Siapa kau yang berani-berani menghalangi tindakan Jatimurka?"
Sakri tersenyum, biarpun hatinya panas sekali. "Bangsat rendah! Kau berani-berani menjatuhkan sihir dan mencoba menculik Sekar Kedaton Pajajaran! Tak tahukah kau bahwa di Pajajaran masih ada seorang panglima yang bernama Sakri dan yang sama sekali tidak takut segala ilmu iblis yang kau keluarkan? Menyerahlah, karena kalau tidak, malam ini tentu akan tewas dalam tangan Sakri!"
"Ha, ha, ha, ha!" Suara ketawa Jatimurka terdengar menyeramkan sekali dan menggema di seluruh penjuru hutan. Jangkerik-jangkerik dan segala bunyi-bunyian binatang hutan serentak diam karena ketakutan mendengar suara ketawa seperti ketawa iblis ini.
"Sakri! Kau anak muda yang masih berbau pupuk di embun-embun kepalamu! Berani menentang Jatimurka?"
"Jatimurka, manusia iblis! Ingatlah betapapun saktinya kau, akan tetapi kalau tindakanmu sesat, pasti kau akan binasa!"
"Bangsat jahanam!" Jatimurka menepuk kedua tangannya dan dari segenap penjuru berlompatan keluar semua anak buahnya yang berjumlah empat puluh orang lebih! Mereka ini dengan sikap menakutkan menghampiri dan mengurung Sakri!
Tempat itu diterangi oleh sinar obor yang banyak dipasang di sekitar tempat itu hingga Sakri dapat melihat wajah mereka yang bengis dan kejam. Maklumlah ia bahwa ia terkurung oleh segerombolan perampok kejam dan ganas. Ia berpikir cepat, dan mengambil keputusan untuk mendahului. Sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menyerang maju dan tiga orang begal kena hantam oleh kedua tangan dan sebelah kakinya hingga mereka itu jatuh terguling-guling dan berteriak kesakitan. Pukulan Sakri bukan main kerasnya hingga untuk beberapa lama, begal-begal yang telah kena pukul ini takkan dapat bangun lagi.

0 komentar:
Posting Komentar