Sambil berseru marah para begal lalu maju mengeroyoknya dengan parang dan tombak di tangan. Sakri marah sekali, lalu menghunus keluar keris dan sekali tangan kirinya bergerak, ia telah dapat menangkap seorang anggauta begal. Ia lalu mengangkat tubuh lawan ini dan dijadikan perisai! Dengan perisai istimewa ini di tangan kiri dan keris pusakanya di tangan kanan, Sakri lalu mengamuk. Sepak terjangnya laksana seekor banteng terluka hingga ke mana saja tubuhnya bergerak, tentu terdengar teriakan keras seorang lawan yang roboh mandi darah. Tubuh perisai hidup di tangan kiri Sakri telah lama mampus karena senjata-senjata kawan sendiri yang datang bagaikan hujan dalam penyerangan mereka kepada Sakri, akan tetapi senjata itu semua diterima dengan perisai istimewa itu! Ketika merasa, betapa perisai hidup itu membasahi tangan dan lengannya, Sakri lalu melemparkan mayat itu ke arah pengeroyoknya.
Tiba-tiba ia melihat betapa diam-diam Jatimurka mempergunakan kesempatan itu untuk menyaut tubuh Diah Pitaloka lagi dan hendak melarikan gadis itu. Sakri berseru keras dan tubuhnya melayang ke arah kepala begal itu. Karena tidak ingin melukai Diah Pitaloka, Sakri masukkan kerisnya di sarung keris, dan menggunakan kedua tangannya. Tangan kiri ia gunakan untuk memegang dan memeluk pinggang Sang Puteri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengirim pukulan geledek yang mampir dengan hebatnya di kepala Jatimurka!
"Aduh!!!" Jatimurka memekik kesakitan dan tubuh Sang Puteri dapat terampas. Sakri lalu melompat ke pinggir dan dengan hati-hati meletakkan tubuh Diah Pitaloka ke atas rumput. Pada saat itu, Jatimurka yang bertubuh kebal telah bangun kembali dan melompati Sakri dengan keris terhunus dari belakang! Juga para begal lainnya lalu maju mengeroyok!
Sakri memutar otaknya. Kalau ia melayani semua orang ini tentu Jatimurka akan mendapat kesempatan menculik Sang Puteri, maka ia menggeram bagaikan suara seekor harimau hingga para anak buah begal itu tergetar dan menahan serbuan mereka. Saat ini digunakan oleh Sakri untuk menubruk maju kepada Jatimurka dan ketika kepala begal itu menusuk dengan keris, Sakri memiringkan tubuh, menggunkan tangan kiri menolak pergelangan tangan lawan dan secepat kilat tangan kanannya mengirim pukulannya yang disertai Aji Kelabang Kencana! Bukan main hebatnya pukulan yang mempunyai kemujijatan bagaikan mengandung racun ribuan kelabang menyengat ini! Seketika itu juga, tubuh Jatimurka bergulingan di atas tanah, mangaduh-aduh, menjerit-jerit, memekik-mekik kesakitan kemudian diam tak bergerak. Tubuhnya telah bengkak-bengkak dan matang biru dan nyawanya telah melayang!
Melihat kehebatan pemuda ini, sisa kawanan begal itu lainnya melempar senjata mereka lari tunggang langgang di dalam gelap!
Sakri mengatur napas untuk memulihkan kekuatannya. Kemudian ia menghampiri tubuh Sang Puteri yang masih rebah tak sadarkan diri di atas tanah. Dengan penerangan obor, wajah puteri itu nampak cantik-jelita mendebarkan jantung Sakri. Pada saat itu, Sang Puteri tersenyum dalam tidurnya, seakan-akan sedang bermimpi bertemu dengan calon suaminya, Raja Majapahit!
Sakri mengurungkan niatnya hendak memondong tubuh Diah Pitaloka dan membawanya kembali ke peraduan. Ia lalu mengerahkan tenaga batinnya, membaca mantera dan menggunakan tangan kanannya menguap muka gadis itu tiga kali sambil berkata perlahan.
"Sang Puteri, sadar dan bangunlah!"
Diah Pitaloka bagaikan disiram air dingin. Serentak ia bengun duduk dan terbelalak memandang kepada pemuda yang duduk bersila di depannya. Ketika melihat bahwa iapun sedang duduk di atas rumput, kedua matanya bernyala seakan-akan mengeluarkan api dan kedua mata itu ditujukan ke arah wajah Sakri bagaikan hendak menembus wajah itu.
Sakri cepat menyembah. "Duhai gusti pujaan hamba, janganlah paduka melepas pandang seganas itu kepada hamba."
"Kau...... Senapati Sakri..... apakah yang telah kau perbuat? Bagaimana aku bisa berada di tempat ini bersama....... kau.......?"
"Ampunkan hamba, gusti. Hamba persilakan paduka melihat ke sebelahsana ." Sambil berkata demikian, Sakri menggunakan ibu jari tangannya menunjuk ke belakangnya. Sang Puteri mengikuti arah ini dengan pandang matanya dan tiba-tiba ia menjadi pucat dan otomatis tangan kanannya diangkat naik menutupi mulutnya! Ia melihat beberapa tubuh yang tinggi besar dan mengerikan bergelimpangan di situ dan ketika melihat muka dan tubuh Jatimurka yang bengkak-bengkak mengerikan, hampir saja ia menjerit dan menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya!
"Sakri....... apa....... apakah yang telah terjadi dan mengapa orang-orang kita tidak ada yang muncul?"
Dengan sabar dan tenang, tetapi dengan suara agak gemetar oleh karena selamanya tak pernah ia bermimpi akan dapat bercengkerama berdua di atas rumput dan berhadapan dengan Diah Pitaloka, Sakri lalu menuturkan segala peristiwa yang telah terjadi.
"Aduh Dewata yang agung!" Diah Pitaloka menyebut nama dewata. "Keparat, laknat betul si Jatimurka! Berani bedebah itu mengotori tubuhku dengan tangannya! Binasakan dia, Sakri!"
Sakri menahan senyumnya melihat perubahan pada diri dara jelita ini. Tadinya ia merasa demikian takut dan ngeri, tapi sekarang begitu bersemangat dan berani! "Dia sudah hamba binasakan, gusti."
Kini Diah Pitaloka berdiri dan ia pandang wajah pemuda tampan dan gagah yang dengan berani memandangnya dari bawah. "Sakri kau memang gagah perkasa. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada kau!" Suaranya terdengar mengandung keharuan besar dan bahkan disertai isak.
Sakri lupa diri dan serentak ia bangun berdiri pula. Ditentangnya pandang mata dara itu dengan sinar mata yang mengandung apiasmara sepenuh hatinya, hingga Diah Pitaloka menjadi takut dan malu lalu menundukkan muka. "Mengapa pula kau memandangku seperti itu, Sakri?" tanyanya lembut.
Sakri sadar kembali dan menghela napas. "Ampun beribu ampun, gusti pujaan hamba. Hamba hampir lupa bahwa paduka adalah junjungan hamba, bahwa hamba hanyalah seorang senapati rendah, dan bahwa paduka adalah calon permaisuri Majapahit yang mulia!" Kembali Sakri menghela napas.
Untuk beberapa lama Diah Pitaloka tak dapat menjawab atau mengeluarkan kata-kata. Ia hanya memandang kepada Sakri yang bertunduk dengan mata basah oleh air mata yang di tahan-tahannya. "Sakri,...... Sakri, jangan kau berkata demikian kepadaku, pahlawan yang gagah perkasa! "Hanya sampai sekiankah baktimu terhadap Pajajaran?"
Walau kata-kata ini diucapkan dengan suara bisikan tercampur sedu-sedan, namun pengaruhnya menikam jantung pemuda itu, membuatnya merasa rendah dan hina dan ia merasa malu sekali. Akan tetapi berbareng semangatnya bangkit kembali. Ia lalu menyembah dan berlutut, mengangkat dadanya dan berkata dengan suara gagah,
"Gusti yang hamba muliakan, hamba adalah senapati dan panglima Pajajaran sejati. Untuk paduka, hamba rela mengurbankan nyawa dan tubuh yang tak berharga ini! Mulai saat ini, hasrat hamba hanya tunggal, yakin mengharap kebahagiaan paduka dan membela paduka sampai hayat meninggalkan badan!"
Diah Pitaloka sangat terharu. Ia mengulurkan tangan kepada Sakri. Pemuda itu menerima jari-jari yang halus dan mungil itu sambil memandang ke atas dengan mata penuh pertanyaan. Melihat bahwa puteri itu memandangnya dengan mata basah dan bibir tersenyum, ia maklum bahwa ia dapat perkenaan, maka ditariknyalah jari-jari itu ke hidung dan mulutnya dan diciumnya dengan penuh khidmat, hormat dan sepenuh perasaan kasihnya.
Diah Pitaloka mengulurkan tangan karena hatinya tergerak oleh rasa haru dan kagum, akan tetapi kasih sayang yang memancar keluar dari hati sanubari Sakri dan yang menjalar ke bibirnya, oleh Sang Puteri dirasakan bagaikan api membakar ujung jarinya. Dengan gerakan perlahan dan lemah lembut Diah Pitaloka menarik kembali tangan itu dan berkata,
"Sakri, kuharap kau suka melindungi namaku dari cemar dan malu. Janganlah kau ceritakan kepada siapa juga akan usaha buruk Jatimurka yang hendak menculikku."
"Hamba junjung tinggi perintah paduka dan hamba bersumpah takkan membocorkan peristiwa yang menimpa paduka malam hari ini. Ancaman maut sekalipun takkan kuasa membuka mulut hamba!"
Setelah melempar senyum manis yang mengandung penuh rasa terima kasih ke arah Sakri, Diah Pitaloka lalu kembali dalam biliknya.
Serasa dalam mimpi segala peristiwa malam itu bagi Sakri. Dadanya masih bergelombang dan pikirannya nanar karena pertemuan dengan dewi pujaan hatinya yang tak tersangka-sangka itu. Ia merasa berbahagia sekali karena sudah mendapat anugerah dewata dan diberi kesempatan membela Diah Pitaloka. Kini hidupnya tidak kosong seperti yang dideritanya dalam beberapa hari semenjak puteri itu ditunangkan dengan Raja Majapahit. Kini ia memiliki pegangan hidup kembali, yakni bahwa seluruh jiwa-raganya akan ia persembahkan demi kebahagiaan dan keselamatan dewi yang dicintainya itu. Untuk beberapa lama Sakri tidak bergerak dari tempat duduknya semula. Ia tetap duduk bersila di atas rumput dan tak bergerak bagaikan patung.
Akhirnya, setelah gelombang di dalam dadanya mereda, ia bangun berdiri lalu mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengusir pengaruh sirep Cempaka-nendra yang masih meracuni udara di sekitar tempat itu. Maka sadarlah semua penjaga yang tadinya tertidur. Mereka menggosok-gosok mata dengan terkejut dan heran. Alangkah kaget mereka ketika melihat banyak mayat bergelimpangan di situ. Juga para panglima segera berlari keluar. Keadaan menjadi ribut. Sebenarnya, diantara semua senapati dan panglima, banyak yang pandai dan sakti, seperti misalnya Patih Anepaken, Demang Cabo, Penghulu Borang, Patih Pitar dan lain-lain. Akan tetapi mereka ini tadinya sama sekali tak pernah menduga akan datangnya bahaya hingga tidak sampai berjaga diri. Kalau saja mereka tahu akan datangnya bahaya yang mengancam, tentu mereka kuasa menolak sirep yang dilepas oleh Jatimurka.
Sakri lalu dihujani pertanyaan dan dengan terus terang Sakri menceritakan bahwa gerombolan begal itu melepas sirep yang ampuh dan datang bermaksud merampok. Untung ia dapat membunuh kepala begal dan beberapa orang kaki tangannya, hingga yang lain-lain lalu melarikan diri.
Ratu Dewata yang juga terjaga dari tidurnya mendengar ribut-ribut, ketika mendengar akan kegagahan Sakri, merasa berterima kasih sekali dan memuji-muji ketangkasan pemuda itu. Tak lupa raja ini menegur sekalian senapati dan bayangkari oleh karena kelalaian mereka, hingga kalau tidak ada Sakri yang waspada dan hati-hati, tentu begal-begal itu telah berhasil mencuri barang-barang berharga!
Pada keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan cepat. Berkat penjagaan para pengawal yang semenjak terjadinya peristiwa itu kini berlaku sangat tertib dan hati-hati, perjalanan rombongan itu selamat tidak terhalang sesuatu.
Beberapa hari kemudian, romebongan Ratu Dewata telah tiba di Bubat, sebuah lapangan yang luas di sebelah utara ibu kota Majapahit. Di tempat ini Sang Prabu memerintahkan supaya romebongan memasang kemah dan mereka berhenti di situ. Pak Lurah Bubat menerima kedatangan tamu-tamu agung ini dengan gugup dan gembira dan menyediakan apa yang ada sekuasanya untuk menjamu Raja calon mertua junjungannya yang terhormat itu. Kemudian, tergopoh-gopoh Lurah Bubat pergi menghadap ke Majapahit untuk mengabarkan perihal kedatangan rombongan Raja Pajajaran yang mengantarkan puterinya ke Majapahit. Ratu Dewata dan sekalian pengiringnya menunggu di Bubat dengan sabar sambil beristirahat setelah melakukan perjalanan yang jauh dan penuh bahaya itu.
Keputusan Sang Prabu Hayam Wuruk untuk mengangkat puteri sekar-kedaton Pajajaran sebagai permaisuri disambut dengan gembira oleh rakyat Majapahit, oleh karena rakyat Majapahit sendiri sudah lama mendengar akan kecantikan puteri dan kepandaian puteri itu. Akan tetapi, ada dua orang pembesar di Majapahit yang tidak puas dan tidak setuju akan keputusan Sang Prabu ini. Mereka adalah Wijayarajasa, Raja di Wengker dan Sang Patih Gajah Mada sendiri! Wijayarajasa adalah suami Diah Wiat yang menjadi adinda Tribuwanatungga Dewi atau bibi dari Prabu Hayam Wuruk sendiri. Wijayarajasa tidak senang mendengar keputusan Sang Prabu untuk mengangkat seorang puteri Pajajaran sebagai permaisuri, oleh karena sudah lama ia ingin melihat puterinya yang juga cantik-juita bernama Susumnadewi, yakni puteri dari seorang selirnya yang terkasih, untuk menjadi permaisuri di Majapahit!
Adapun Patih Gajah Mada tidak puas akan putusan Prabu Hayam Wuruk bukan karena mempunyai sesuatu niat demi kepentingan sendiri sebagaimana halnya Wijayarajasa, namun semata-mata karena terdorong oleh rasa baktinya terhadap Sang Prabu dan Kerajaan Majapahit. Menurut pendapat Patih Gajah Mada seyogianya Sang Prabu mengangkat seorang puteri Jawa pula sebagai permaisuri, oleh karena selain terdapat perbedaan adat-istiadat dengan puteri Pajajaran, juga hal ini akan menimbulkan rasa iri hati di kalangan raja-raja kecil. Kalau Sang Prabu mengambil puteri Pajajaran sebagai permaisuri muda atau selir, kiranya Patih Gajah Mada akan dapat menyetujuinya, namun sesungguhnya, sikap menentang keputusan Sang Prabu, yang terkandung dalam hati Patih Gajah Mada, tidak sehebat rasa penasaran Wijayarajasa.
Diam-diam Wijayarajasa mencari akal untuk menghalangi pernikahan agung ini. Ketika mendapat kabar bahwa Lurah Bubat berangkat ke kota raja, ia mencegatnya di jalan.
Ketika bertemu dengan raja Wengker yang menjadi paman dari Sang Prabu Hayam Wuruk Lurah Bubat segera berlutut menyembah.
"Pak Lurah Bubat kiranya yang berjalan tergesa-gesa ini! Ada keperluan apa maka kau nampak demikian gugup?" tanya Wijayarajasa.
"Hamba hendak pergi menghadap Sang Prabu di kota raja untuk mewartakan tentang kedatangan rombongan Gusti Prabu dari Pajajaran," jawabnya.
"O, jadi Raja Pajajaran yang hendak mempersembahkan puterinya itu telah tiba?" kata Wijayarajasa dengan tersenyum mengejek, kemudian sambungnya. "Eh, ki lurah, dengan maksud apa engkau hendak menyampaikan berita kedatangan mereka kehadapan Gusti Prabu Hayam Wuruk?"
Pak Lurah Bubat memandang heran. "Bukankah itu sudah seharusnya dan menjadi kewajiban hamba, gusti? Hamba mewartakan kekota raja, agar rombongan dari Pajajaran itu disambut, karena mereka kini sedang menanti di Bubat."
"Dengar, ki lurah, kau harus menurut perintahku. Dan awas, kalau kau tidak mentaati perintahku ini, kau dan seluruh keluargamu akan kutumpas!"
Menggigillah seluruh tubuh Ki Lurah Bubat mendengar ancaman yang diucapkan secara tiba-tiba ini. "Apa..... apakah maksud paduka gusti?"
"Kau perlambat perjalananmu, hingga besok baru boleh menghadap Sang Prabu, dan apabila kau telah menghadap, beritahukanlah bahwa kau diutus oleh Raja Pajajaran yang menuntut supaya Sang Prabu Hayam Wuruk sendiri datang menyambut kedatangannya di Bubat!"
Lapanglah dada ki lurah Bubat. Tadinya ia menyangka bahwa apa yang akan diperintahkan itu adalah sesuatu yang hebat. Tetapi kiranya hanya demikian saja kehendak Raja Wengker ini. Dan bukankah sudah seharusnya kalau calon mantu menyambut calon mertuanya?
"Baiklah, gusti. Hamba akan mentaati perintah paduka," jawabnya.
"Nah, aku berangkat lebih dulu, Ki Lurah. Ingat besok pagi kau boleh datang menghadap ke keraton."
Setelah memberi pesan itu, Wijayarajasa lalu memacu kudanya menuju kekota raja dan langsung menemui Patih Gajah Mada.

0 komentar:
Posting Komentar