Setelah saling memberi salam, Wijayarajasa lalu memberitahukan bahwa rombongan Raja Pajajaran telah tiba di Bubat dan bahwa menurut berita angin yang ia dengar, Ratu Dewata dari Pajajaran itu tidak mau melanjutkan perjalanan dan akan menanti sampai datang rombongan penyambut dari Majapahit. Patih Gajah Mada menjawab bahwa hal itu sudah semestinya dan bahwa ia sendiri bersedia mengadakan sambutan di Bubat apabila diperintah oleh Sang Prabu Hayam Wuruk. Dengan cerdik dan tidak kentara, malam hari itu Wijayarajasa membayangkan kepada Patih Gajah Mada bahwa Ratu Dewata adalah seorang raja yang sombong, angkuh dan merasa lebih tinggi kedudukannya daripada Prabu Hayam Wuruk sendiri.
Gajah Mada adalah seorang perwira gagah perkasa yang beradat jujur dan keras hati. Menghadapi siasat kelemasan lidah Wijayarajasa yang pandai bertukar-kata, akhirnya ada juga sedikit pengaruh obrolannya yang membuat hati Gajah Mada merasa kurang senang kepada Raja Pajajaran itu. Wijayarajasa girang sekali bahwa ia telah berhasil menanam bibit kebencian dalam dada patih yang berpengaruh ini.
Pada keesokan harinya, barulah Ki Lurah Bubat berani menghadap Sang Prabu Hayam Wuruk yang sedang bersiniwaka dihadap oleh semua pembesar dan panglimanya.
Setelah menyembah dengan khidmad, Ki Lurah Bubat berkata,
"Ampunkan hamba yang telah berlaku lancang dan berani menghadap tanpa dipanggil, Gusti. Hamba menyampaikan berita bahwa rombongan dari Pajajaran telah tiba di Bubat dan kini memasang pesanggrahan disana . Sang Nata Ratu Dewata dari Pajajaran berkenan mengutus hamba untuk menyampaikan berita ini kepada paduka gusti, dan....... dan...... Sang Nata dari Pajajaran minta agar supaya paduka sudi menyambut dan menjemput rombongan mereka di Bubat!" Ki Lurah Bubat teringat akan ancaman Wijayarajasa yang pada saat itu juga hadir di situ.
Berserilah wajah Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar berita baik ini. Sang Prabu merasa gembira sekali karena hendak bertemu dengan puteri juita yang telah lama dirindukannya.
"Baiklah, baiklah....." ujarnya. "Paman Patih Gajah Mada, segera siapkanlah semua pengiring. Aku hendak berangkat memapak mereka sekarang juga di Bubat!"
Akan tetapi, pada saat itu bibit racun yang semalam ditanam oleh Wijayarajasa di dalam hati Gajah Mada, telah mulai bersemi. Mendengar bahwa Raja Pajajaran itu minta agar supaya Sang Prabu Hayam Wuruk sendiri menyambut dan menjemput di Bubat, Patih Gajah Mada merasa marah sekali. Alangkah sombongnya Raja Pajajaran, pikirnya! Maka ia menyembah dan berkata,
"Ampunkanlah hamba berani menyampaikan kata hati hamba kepada paduka, gusti. Bukan semata-mata hamba hendak membantah perintah dan kehendak paduka, akan tetapi yang hendak hamba haturkan ini adalah sekadar usul untuk menjadi bahan pertimbangan paduka dan sukurlah apabila paduka dapat menyetujui usul hamba ini. Menurut pendapat hamba, kurang sempurna dan bukan selayaknyalah apabila paduka sendiri pergi melakukan penyambutan ke Bubat. Demikianlah sebabnya. Kedudukan Raja di Pajajaran tidak lebih tinggi daripada kedudukan para ratu lain yang telah takluk dan mengakui kedudukan paduka sebagai Maharaja, hingga kedudukan paduka lebih tinggi daripada kedudukan raja di Pajajaran. Apabila kini paduka sendiri sampai menyambut dan memapak mereka di Bubat, hal ini sangat merendahkan kedudukan paduka sebagai Maharaja. Terutama sekali hal ini akan mendatangkan iri hati dan tidak senang di kalangan para raja lain dan akhirnya hanya akan mendatngkan keruwetan dan kekacauan belaka. Apabila mereka itu menyatakan ketidaksukaan dan iri hati mereka. Kalau Sang Prabu Pajajaran minta dijemput, biarlah hamba dan para panglima yang menjemputnya sebagai wakil paduka, dan paduka cukup menanti di keraton untuk menyambut kedatangan mereka. Nah, demikianlah usul dan pendapat hamba yang hamba dasarkan semata-mata demi keluhuran nama Paduka dan kebesaran kerajaan Majapahit gusti."
Termenunglah Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar ucapan Patih Gajah Mada ini. Kalau orang lain yang mengeluarkan ucapan ini, mungkin Sang Prabu akan marah. Akan tetapi, Sang Prabu Hayam Wuruk telah yakin dan percaya penuh akan kebijaksanaan dan kesetiaan Patih Gajah Mada dan maklum pula bahwa usul ini benar-benar berdasar kesetiannya demi kebaikan Raja dan Negara.
Setelah diam sejenak, Sang Prabu Hayam Wuruk lalu bersabda,
"Benar dan tepat pendapatmu, Pamanda Patih. Bukan karena kecongkakan, bukan karena kurang hormat, dan juga bukan untuk merendahkan kedudukan Rama Prabu di Pajajaran, akan tetapi aku tidak mengadakan penjemputan sendiri hanya untuk mencegah iri hati dan ketidak-senangan fihak ketiga. Kau benar, dan demikianlah seyogjanya. Jemputlah mereka dan aku menanti di sini."
"Ki lurah, cepatlah kau kembali ke Bubat dan beritahukan kepada Ratu dari Pajajaran bahwa Sang Prabu tak dapat menjemput sendiri, akan tetapi Patih Gajah Mada yang akan mewakilinya."
Ki Lurah Bubat segera memacu kudanya kembali ke Bubat, akan tetapi di tengah jalan ia ditahan lagi oleh Wijayarajasa. Kembali Raja Wengker ini mengancam dan minta supaya ki lurah menyampaikan kepada Sang Prabu dari Pajajaran bahwa Sang Prabu Hayam Wuruk tidak suka menjemput dan memerintahkan agar supaya para tamu itu segera menghadap dan ditunggu di Majapahit.
Ki Lurah Bubat tak berani membantah dan mempercepat perjalanannya.
Sesungguhnya, tidak ada sesuatu tuntutan timbul dari fihak Pajajaran . Sang Prabu beserta rombongannya berhenti dan berkemah di Bubat tak lain hanya untuk beristirahat dan untuk bersiap-siap memasukikota raja. Tentu saja rombongan itu mengharapkan datangnya rombongan penyambut dari keraton Majapahit sebagaimana lazimnya.
Karena belum juga ada rombongan penyambut yang datang, Ratu Dewata lalu mengutus beberapa orang senapati dan pahlawan membawa perajurit pergi kekota raja untuk memberitahukan bahwa rombongan dari Pajajaran telah siap-sedia menerima rombongan penyambut dari Majapahit.
Di tengah jalan, rombongan dan barisan utusan ini bertemu dengan Ki Lurah Bubat. Ki Lurah Bubat lalu memberitahu kepada mereka bahwa Sang Prabu Hayam Wuruk tidak suka menyambut sendiri dan memerinthakan supaya Raja Pajajaran segera masuk ke kota raja dan menghadap kepada Sang Prabu yang sudah menanti di keraton.
Jawaban ini amat menyakiti hati pemimpin rombongan yang terdiri dari Patih Anipaken, Demang Cabo dan Patih Pitar. Mereka mencela kesombongan Raja Majapahit yang sama sekali tidak menaruh hormat kepada calon mertua. Dengan hati panas mereka melanjutkan perjalanan untuk menunaikan tugas mereka sebagai utusan ratu.
Ketika mereka tiba dikota raja, Patih Gajah Mada sedang bersiap sedia untuk berangkat melakukan penjemputan dengan para pengiring dan hulubalang lain. Kedatangan barisan utusan ini segera disambutnya dengan baik.
Akan tetapi Patih Anepaken yang sudah merasa sakit hati dan marah, tak dapat berlaku ramah terhadap Patih Gajah Mada, katanya,
"Sang Nata Pajajaran telah mengutus kami untuk memberi tahu bahwa rombongan Pajajaran telah siap-sedia menerima kedatangan penyambut dan penjemput di Bubat."
Ketika Patih Gajah Mada melihat sikap keras dan mendengar ucapan singkat ini, timbullah marahnya pula. Memang di dalam hati Patih Gajah Mada sudah terdapat racun yang ditanam oleh Wijayarajasa hingga ia telah mempunyai pandangan bahwa orang-orang Pajajaran ini sombong-sombong, sama sekali tidak menyangka bahwa Patih Anepaken juga mempunyai pandangan yang demikian pula terhadap orang-orang Majapahit akibat laporan palsu Ki Lurah Bubat! Syak wasangka dan salah paham telah mengeruhkan pikiran dan hati kedua fihak.
"Tidak selayaknya apabila Gusti Prabu Hayam Wuruk yang harus menjemput sendiri," jawab Patih Gajah Mada, "Menurut tingkat dan kedudukan, seharusnya Sang Prabu di Pajajaranlah yang datang menghadap dan langsung menuju ke Majapahit tanpa menanti dijemput."
Kedua patih ini mengukuhi pendirian masing-masing yang berdasar membela kehormatan kerajaan sendiri di mana mereka menghambakan diri dan sedikitpun tidak mau mengalah. Maka terjadilah pembantahan. Dalam kemarahanya Patih Anepaken bahkan lalu berkata keras,
"He, Ki Patih Majapahit, alangkah rendahnya kamu orang-orang Majapahit, memandang kami orang-orang Pajajaran! Memang kami akui bahwa Gusti Prabu Hayam Wuruk adalah seorang Maharaja yang besar. Akan tetapi janganlah kamu kira bahwa Gusti Prabu Ratu Dewata kalah dalam keagungan dan kebesaran dengan Rajamu!
Kami tidak merasa junjungan kami itu lebih rendah tingkatnya dari junjungan kamu. Ingatlah bahwa Pajajaran bukanlah daerah yang telah takluk kepada Majapahit!" Patih Anepaken mengeluarkan kata-kata ini dengan wajah kemerah-merahan karena marahnya.
Pada saat perang tutur itu terjadi, datanglah Wijayarajasa dan ketika Raja Wengker ini melihat terjadinya pertikaian, hatinya girang sekali dan ia lalu menjawab kata-kata keras Patih Anepaken dengan tantangan.
"He, Patih Anepaken! Janganlah kamu mengumbar nafsu dan kesombongan di Majapahit! Ketahuilah bahwa pahlawan-pahlawan Majapahit tak dapat menelan hinaan demikian saja! Gusti Prabu telah berkenan menerima puteri Pajajaran, hal ini sudah merupakan penghormatan yang sangat besar bagi Pajajaran. Pendeknya, Raja Pajajaran harus mengiringkan puterinya kehadapan Gusti Prabu Hayam Wuruk, kalau tidak hal ini akan diselesaikan dengan ketajaman tombak dan kekebalan kulit!"
Patih Anepaken memang berdarah panas. Mendengar ini, ia telah berdiri dari tempat duduknya dan sekali tendang saja hancurlah kursi yang tadi didudukinya. Matanya bernyala-nyala dan hidungnya berkembang-kempis!
"Hai, orang-orang Majapahit! Kau kira Pajajaran tidak punya satria-satria? Ketahuilah, bagi kami orang-orang Pajajaran, kehormatan lebih utama daripada jiwa, mengerti?"
Hampir saja terjadi keributan di ruang kepatihan itu dan hampir terjadi adu tenaga diantara para pembesar itu. Akan tetapi, biarpun Sakri yang juga hadir di situ telah merasa panas seluruh tubuhnya karena marah, ia tetap dapat mempergunakan kekuatan batinnya untuk menekan kemarahannya itu. Ia lalu melompat ke dekat Patih Anepaken dan membujuk.
"Sudah, gusti patih. Untuk apa menurutkan nafsu hati dan marah-marah di sini? Ingat bahwa kita bukan sedang berada di dalammedan peperangan dan sebagai utusan raja kita harus bersikap bijaksana."
Kepala dari Patih Anepaken serasa diguyur air dingin ketika mendengar ucapan Sakri ini dan ia lalu memandang kepada Sakri dengan pernyataan terima kasih. Memang betul, hampir saja ia lupa akan keadaan dan karenanya bahkan merendahkan martabat Rajanya dengan memperlihatkan sikap yang tidak semestinya.
Sementara itu, biarpun Patih Gajah Mada merasa menyesal mendengar tantangan yang diucapkan oleh Wijayarajasa, akan tetapi karena yang mengucapkan adalah orang dari fihaknya, maka ia tidak mungkin dapat menarik kembali kata-kata itu yang berarti akan merendahkan diri sendiri. Maka hanya berkata kepada Wijayarajasa.
"Mereka ini adalah utusan nata dan tidak seharusnya kita menghina utusan nata!"
Wijayarajasa melihat betapa dari sepasang mata Patih Gajah Mada menyinarkan rasa penuh sesal, ia tidak berani banyak cakap lagi.
Demikianlah, dalam keadaan sama-sama panas dan meradang rombongan utusan itu kembali ke Bubat.
Alangkah murkanya Sang Prabu Dewata mendengar laporan patihnya karena merasa betapa kedudukannya direndahkan orang. Sabdanya dengan marah.
"Ya Jagat Dewa Batara! Mengapa dijatuhkan percobaan sehebat ini kepada hamba?Para pahlawanku sekalian. Memang semenjak kalian berangkat ke Majapahit, telah ada perasaan tidak enak dalam hatiku tanda akan adanya bahya mendatang. Kita harus bersiap sedia menjaga datangnya segala kemungkinan. Betapapun hati seorang ayah menyinta puterinya, akan tetapi bagi seorang satria, kehormatan lebih besar artinya. Lebih baik hancur-lebur tubuh ini daripada menyerah dalam kehinaan! Persiapkanlah seluruh balatentara, kita menanti datangnya serbuan dari Majapahit! Demi keluhuran Pajajaran kita lawan mereka mati-matian!"
"Hamba rela dan bersedia membela Pajajaran sampai hancur tubuh hamba!" seru Patih Anepaken.
"Hamba bersedia membela Pajajaran sampai titik darah yang penghabisan!!" Sakri ikut berseru dengan penuh semangat.
Ratu Dewata menjadi terharu sekali, terutama mendengar seruan Sakri yang hendak membela Pajajaran sampai titik darah penghabisan! Bagi Patih Anepaken dan yang lain-lain, hal ini tidak mengherankan dan bahkan sudah selayaknya, karena mereka adalah orang-orang Pajajaran. Akan tetapi, bukankah Sakri seorang Jawa? Maka sabdanya perlahan,
"Sakri, sudah yakin benarkah hatimu bahwa kau hendak mengurbankan jiwa ragamu untuk
Semua orang memandang ke arah pemuda yang gagah perkasa ini, dan Sakri juga maklum ke mana maksud pertanyaan Sang Prabu Dewata itu. Sembahnya,
"Gusti, hamba adalah seorang laki-laki yang menjunjung tinggi sifat satria utama. Semenjak kecil, ayah hamba telah menggembleng hamba dengan ajaran yang luhur dari Sri Kresna yang bijak dan waspada. Sekali hamba bersuwita, maka hamba akan setia sampai mati!"
Semua orang terharu mendengar ini, dan mereka lalu bersiap sedia menjaga datangnya serbuan dari Majapahit.
Patih Gajah Mada mendengar pula dari para penyelidik akan sikap Ratu Dewata dari Pajajaran. Ia maklum bahwa demi membela kehormatan masing-masing, maka pertempuran takkan dapat dielakkan lagi. Maka ia lalu menghadap kepada Prabu Hayam Wuruk untuk minta keputusan dan perkenan akan maksudnya menggempur barisan Pajajaran di Bubat. Sang Prabu Hayam Wuruk menghela napas panjang karena merasa berduka dan kecewa bahwa persoalan menjadi demikian panas dan meruncing. Akan tetapi, sebagai seorang raja, iapun harus mempertahankan kehormatan kerajaannya. Dimintanya agar Patih Gajah Mada mencoba membereskan persoalan ini dengan jalan damai dan membujuk Sang Prabu Dewata untuk berdamai dan sudi mengalah, Patih Gajah Mada setelah menyatakan kesanggupannya, lalu mengerahkan sejumlah perajurit yang besar untuk pergi ke Bubat.
Sebetulnya Patih Gajah Mada juga ingin membereskan kesalah-pahaman ini dengan cara damai. Akan tetapi, hal ini telah diketahui pula oleh Wijayarajasa, maka Raja Wengker ini lalu mengutus beberapa puluh orang suruhan, yang ini terdiri dari orang-orang jahat yang sanggup menjalankan perintah apa saja asal mendapat upah besar. Begitu tiba di Bubat, mereka menyerang orang-orang Pajajaran dan setelah membunuh beberapa orang yang tak berjaga-jaga, mereka lalu melarikan diri.
Ributlah keadaan di Bubat dan semua orang Pajajaran mendengar bahwa beberapa kawan dari Pajajaran telah terbunuh oleh orang-orang Majapahit! Maka memuncaklah kemarahan mereka hingga ketika barisan Gajah Mada tiba, tanpa banyak cakap lagi barisan Pajajaran lalu menyerang!
Dan segeralah terjadi perang tanding yang hebat dan dahsyat di Bubat! Peperangan ini terkenal dengan sebutan Perang Bubat dan sampai lama menjadi kenangan orang. Darah membanjir di lapangan Buabat yang luas. Rumput yang tadinya tumbuh segar, menjadi kering dan mati kena injak kaki orang dan kuda. Warna lapangan yang tadinya hijau segar menyedapkan mata, kini berubah merah oleh darah, darah perajurit-perajurit Majapahit dan Pajajaran! Keris dan tombak berkilauan mengamuk menenbus perut dan dada. Pekik dan teriak menggegap-gempita dan debu mengepul ke angkasa membuat sinar matahari menjadi pucat. Kehebatan peperangan di lapangan Bubat ini tiada kalah hebatnya dengan peperangan mahabesar yang disebut Bharata-yuda di lapangan Kurusetra! Ribuan perajurit gagah-perkasa tewas di ujung senjata. Panglima-panglima kedua fihak yang muda, tampan, dan perkasa, gugur bagaikan ratna dalam perang itu!
Sakri mengamuk dengan hebatnya bagaikan seekor banteng sakti mencium darah kawannya! Tubuhnya penuh dengan darah lawan. Berpuluh-puluh orang tewas dalam tangannya. Setiap kali tangan kanannya yang memegang keris bergerak, robohlah seorang perajurit Majapahit, dan tiap kali kepalan tangan kirinya diayun, pecahlah kepala seorang manusia yang menghalang di depannya!
Perajurit-perajurit Majapahit menjadi agak kocar-kacir menjauhi sepak-terjang pemuda yang luar biasa ini, bagaikan serombongan semut didekati api.
Paraperajurit dan panglima Pajajaran karena merasa telah jauh dari negaranya, berperang mati-matian dan nekat hingga tak terhitung banyaknya perajurit Majapahit yang tewas.

0 komentar:
Posting Komentar