Sabtu, 20 Desember 2008

Satria Gung Kidul 04

Melihat kehebatan sepak-terjangnya perajurit-perajurit dan panglima-panglima Pajajaran, Patih Gajah Mada menjadi marah. Ia mendatangkan balabantuan yang besar jumlahnya, dan diantara balabantuan yang tiba, nampak seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang pemuda petani sederhana. Menurut laporan pemimpin barisan yang baru tiba, pemuda ini menyatakan hendak ikut membela Majapahit dan ikut menghalau musuh. Gajah Mada lalu memanggilnya menghadap.

"Hai, anak muda yang muda rupawan. Siapakah kau dan mengapa kau yang semuda ini hendak ikut pula beryuda?"

Dengan suaranya yang halus dan tutur katanya yang sederhana, pemuda itu menyembah dan berkata,

"Hamba bernama Saritama dari Gunung Kidul, Gusti Patih. Dalam perantauan hamba, hamba mendengar bahwa seorang panglima Pajajaran yang bernama Sakri amat digdaya dan sukar dilawan. Maka apablia Gusti Patih memberi perkenan, hamba hendak mencoba melawan panglima Pajajaran yang sakti itu."

Patih Gajah Mada terkejut. Memang iapun telah menyaksikan sendiri kesaktian Sakri pahlawan Pajajaran itu dan telah mengambil keputusan untuk menghadapinya sendiri oleh karena anak buahnya tidak kuat menghadapi amukan Sakri. Akan tetapi, tiba-tiba seorang pemuda dusun telah mengajukan diri hendak menandingi Sakri!

"Cukup kuatkah pundakmu memikul beban ini?" tanyanya dan Patih Gajah Mada melangkah maju mendekati pemuda yang masih duduk bersila di depannya itu. Ia gunakan kedua tangan untuk menekan kedua bahu Saritama dan pemuda itu maklum bahwa Sang Patih sedang mencoba kesaktiannya, karena terasa olehnya betapa sepasang tangan sang Patih itu bagaikan dua buah batu besar yang beratnya luar biasa menekan dan menindih pundaknya! Saritama tersenyum dan berkata,"Hamba rasa beban ini tak cukup berat, gusti!" Dan diam-diam ia mengerahkan tenaganya ke arah dua pundak yang tertekan.

Patih Gajah Mada merasa terkejut dan berbareng kagum ketika merasa, betapa kedua pundak pemuda itu tiba-tiba menjadi kaku keras bagaikan baja dan dapat menahan tekanan kedua tangannya dengan mudah!

Tertawalah Sang Patih. "Bagus, Saritama. Kau benar-benar pantas disebut Pendekar Gunung Kidul. Maju dan lawanlah Sakri, aku membekali doa restu padamu."

Saritama bertubuh sedang dan berkulit putih kuning. Wajahnya tampan dan sepasang matanya mengeluarkan sinar gemilang. Pakaiannya sederhana sekali, bahkan dadanya terbuka telanjang. Telinga kirinya digantungi sebuah anting-anting perak yang mengeluarkan sinar aneh. Senjatanya hanya sebilah keris kecil luk tiga yang diselipkan dalam sarung keris di pinggangnya. Gerak gayanya perlahan dan lemah lembut, akan tetapi tindakan kakinya cepat sekali ketika ia maju kemedan perang.

Paraperajurit yang melihat majunya seorang pemuda bertelanjang dada tanpa memegang senjatapun di tangan, merasa sangat heran dan untuk sejenak perajurit-perajurit Pajajaran menjadi ragu-ragu. Mereka merasa tidak tega menyerang seorang pemuda yang demikian tampan dan yang maju kemedan pertempuran dengan senyum manis di bibir.

Tiba-tiba seorang perajurit Pajajaran maju dengan tombak di tangan. Ia tidak perduli dengan sikap pemuda itu. Siapapun juga orangnya yang sudah maju kemedan perang dan berada di fihak Majapahit, berarti musuh mereka yang harus dibasmi! Akan tetapi Saritama menghadapi perajurit itu dengan tenang. Ketika tombak itu meluncur hendak ditusukkan ke arah dadanya, pemuda ini perlahan sekali memiringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak miring, tombak itu patah!

"Sabarlah, aku tak hendak bertempur dengan kalian!" katanya. "Tunjukkanlah di mana adanya Sakri pahlawan besarmu, karena hanya dengan dia saja aku mau bertemu!"

Masih ada dua tiga orang perajurit yang merasa gemas dan menyerang, akan tetapi dengan cara sederhana dan mudah, semua senjata yang menyerangnya dapat dibikin patah! Anehnya, sedikitpun pemuda itu tidak mau membalas serangan atau menyakiti lawannya!

Demikianlah, Saritama terus maju mencari-cari Sakri. Akhirnya, ia bertemu juga dengan Sakri yang sedang mengamuk dan yang kini berdiri dengan tangan kanan memegang keris dan tangan kiri bertolak pinggang karena sudah tidak ada lawan yang berani melawannya lagi! Gagah dan hebat bagaikan Raden Abimanyu mengamuk di lapangan Kurusetra.

Ketika melihat seorang pemuda keluar dari fihak Majapahit, Sakri segera lari menghampiri dengan keris di tangan. Akan tetapi, setelah melihat orangnya yang datang, tiba-tiba tubuh Sakri terasa lemas, dadanya berdebar dan tangan yang memegang keris menggigil.

"Dimas Saritama.......!"

"Kakang Sakri!"

Mereka berdua hanya dapat mengeluarkan kata-kata ini dan berdiri berhadapan saling pandang. Terharu, kecewa, girang, dan duka bercampur-aduk di dalam hati masing-masing, membuat mereka berdua tak kuasa berkata-kata. Tanpa disadari Sakri memasukkan kerisnya kembali ke dalam sarung keris.

Akhirnya Saritama yang lebih dulu memecah kesunyian yang menyelubungi mereka berdua, "Kangmas, kangmas Sakri, kau..... kau telah menjadi seorang pengkhianat?"

Sakri terkejut mendengar ini. Tadinya ia telah ingin menubruk, memeluk dan menciumi adiknya yang terkasih ini, akan tetapi oleh karena mereka bertemu dalam keadaan bertentangan, ia tidak dapat melakukan hal ini. Pada saat itu, Saritama adalah seorang musuh, musuh Pajajaran yang berarti musuhnya pula!

"Tidak, Saritama!" jawabnya, "aku bukan seorang pengkhianat!"

"Kau tidak merasa menjadi seorang pengkhianat, akan tetapi kau telah melawan Majapahit. Kalau begitu, apakah selain menjadi seorang pengkhianat, kangmas Sakri juga telah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak berani mengakui dosa sendiri?"

"Saritama! Kau adikku yang kucinta, janganlah mulutmu begitu kejam menjatuhkan fitnah keji terhadap kakakmu sendiri! Kalau bukan kau yang mengucapkan kata-kata ini pasti telah kubinasakan kau!"

"Sakri! Pada saat ini janganlah kau anggap aku sebagai seorang adik. Kalau kau hendak membinasakan aku pula, lakukanlah, wahai manusia sesat dan gelap mata! Hendak kulihat sampai di mana kekejamanmu."

"Saritama," kata Sakri dengan hati perih, "aku bukan seorang pengkhianat, juga bukan seorang pengecut seperti yang kau duga. Aku sadar dan yakin bahwa perjuanganku ini suci dan benar. Ketahuilah, aku seorang panglima Pajajaran, seorang hamba Pajajaran yang telah lama bersuita di depan Sang Ratu Dewata dan yang telah banyak menerima budi kerajaan Pajajaran. Aku telah bersumpah untuk setia dan membela Pajajaran sampai titik darahku yang penghabisan, yang memang sudah selayaknya menjadi cita-cita seorang satria utama! Dengarlah, wahai anak muda, kalau aku melanggar sumpah dan kesetiaanku terhadap kerajaan di mana aku menghambakan diri dan aku tidak menghancurkan fihak Majapahit yang telah menjadi musuh Pajajaran yang hendak menjaga kehormatan, bukankah aku menjadi seorang pengkhianat dan pengecut sebesar-besarnya di dunia ini?"

"Tapi lawanmu adalah bangsa dan darah dagingmu sendiri!" bantah Saritama.

"Di dalam yuda, tidak ada hubungan apa-apa, yang ada hanyalah lawan dan kawan. Siapa saja adanya dia yang berdiri di fihak musuh, dialah lawan yang harus dimusnahkan. Cita-cita seorang perajurit utama hanya tunggal, yaitu membasmi musuh dan membela negara serta taat kepada perintah yang menjadi junjungan. Aku melakukan semua ini dengan penuh kesadaran. Saritama, perjuanganku suci dan tanpa pamrih, karena aku hanyalah menunaikan tugasku sebagai seorang perajurit. Kalau kau bukan perajurit Majapahit, menyingkirlah Saritama, dan jangan kau menghalangi perjuanganku yang suci. Kelak, kalau aku tidak terbinasa di ujung senjata lawan, akan kuceritakan kepadamu tentang semua ini."

Saritama tersenyum. "Sakri, kau tenggelam dalam kesombonganmu sendiri! Kaukira bahwa seluruh perajurit yang bertempur mengadu tenaga ini hanya boneka-boneka belaka? Bahwa hanya kau seorang yang memiliki jiwa satria utama? Ketahuilah, wahai panglima Pajajaran yang gagah perkasa, bahwa aku Saritama juga seorang perajurit Majapahit. Majulah, karena akulah lawanmu!"

"Duh Jagat Dewa Batara!" Sakri mengeluh, "mengapa aku harus menjatuhkan tanganku kepada adikku sendiri?"

"Sakri, ingatlah akan kata-katamu tadi, kita perajurit sama perajurit. Terima kasih atas pelajaranmu tadi yang membuat hatiku merasa lebih lapang untuk mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit denganmu. Mengapa ragu-ragu?"

"Aduh, adikku Saritama..... Kau yang telah lama kurindukan! Tak ada jalan lainkah yang dapat kita ambil? Aku tidak tega menjatuhkan tanganku di atas kepalamu yang kukasihi, Saritama....... kasihanilah kakakmu dan mundurlah."

"Manusia lemah, mana sifat satria yang kau sombongkan tadi?"

Sambil berkata demikian, Saritama melangkah maju dan menyerang dengan pukulan tangannya. Sakri mengelak lemah, akan tetapi Saritama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan gerakan cepat itu sudah menyusul dengan pukulan kedua hingga dada Sakri kena pukul dan panglima itu jatuh tersungkur!

"Sakri bangunlah! Mari kita bertempur seperti perajurit-perajurit sejati! Saritama membentak marah karena gemas melihat betapa lawannya itu tidak membalas.

Mendengar ucapan ini dan merasa betapa pukulan Saritama kuat dan berat, bangkitlah semangat Sakri. Serentak ia melompat berdiri dan menggeram keras, "Baiklah, Saritama. Mari kau pertahankan serbuan seorang satria Pajajaran!" Maka ia lalu menyerang dengan hebatnya. Kedua teruna remaja yang sama tampan sama gagah itu, kakak beradik yang setelah lama berpisah kini bertemu dimedan yuda menjadi lawan, berkelahi mati-matian!

Keduanya sama kuat, sama cepat, dan sama digdaya. Pukul-memukul, tendang-menendang, hempas-menghempas hingga debu mengebul dari tanah yang mereka pijak. Perkelahian ini demikian hebat dan seru, sehingga para perajurit Majapahit dan Pajajaran yang sedang bertempur di dekat tempat kedua kakak-beradik ini beryuda, menghentikan pertempuran mereka dan menonton perkelahian ini dengan kagum!

0 komentar:

 
© free template by Blogspot tutorial